Mentari
telah kembali menampakkan wajahnya di langit. Menandakan malam telah pergi dan
tentu saja digantikan pagi hari yang cerah, yang memaksa seluruh penghuni bumi
untuk segera meninggalkan peraduannya dan kembali memulai aktifitas
masing-masing demi untuk melanjutkan hidup.
“Tok,
tok, tok…Mel, bangun Mel, sudah siang, cepat mandi ntar telat sekolahnya.”
Seorang Ibu setengah baya, mengetuk pintu serta berteriak-teriak galak
mengetahui anak gadisnya yang malas itu belum juga beranjak dari tempat tidurnya.
“Huah……
Aduh, baru juga tidur udah pagi lagi, cepet banget sih bumi ini berputar”.
Gerutunya sambil menguap di dalam kamarnya. Tanpa menunggu teriakan ibunya
untuk yang kedua kalinya, dia memutuskan untuk segera bangun. Lalu mengambil
peralatan mandi dan membuka pintu kamarnya. Matanya masih belum terbuka
seluruhnya.
Sebelum
masuk kamar mandi, dia menyempatkan diri melirik meja makan. Terlihat olehnya
sepiring tahu goreng dan sambal terasi. Matanya langsung bening dan tanpa
basa-basi dia menghampiri meja makan dan mengambil dua potong tahu sekaligus
serta melumurinya dengan sambal terasi. “Yummy…… Mantap……” Gumamnya.
“Melza….”
Ibunya berteriak sekecang-kencangnya. “Berapa kali ibu ingatkan kamu? Jangan
suka memelihara kebiasaan buruk seperti itu. Matahari sudah terbit baru bangun,
wajah masih kusut belum tersentuh air malah sudah menghampiri meja makan,
budaya mana yang kamu tiru itu? Kita ini orang Timur mbok ya sopan santunnya
itu dijaga. Apalagi kamu itu anak perempuan___”
“Lantas
kenapa bu kalo Melza perempuan?” Melza memotong ucapan Ibunya. “Emang salah
Melza kalo Malza perempuan? Melza kan nggak minta dilahirkan perempuan.” Ucap
Melza seenak jidatnya sendiri. “Dan lagian, kata guru agama Melza nih, semua
manusia itu sama, mau orang Barat, Timur, Selatan, Utara, mau Laki-laki ataupun
perempuan sama. Bukankah demikian Ibunda?”
Ibunya
mulai geregetan mendengar ucapan putri semata wayangnya. Belum sempat Melza
menghindar, telinganya sudah menjadi sasaran empuk sang ibunda. “Susah sekali
kamu ini dinasehati orang tua. Bukannya mendengarkan malah balik ceramah”.
“Adududuh……….Ibu
sakit tau, Melza udah gedhe bu, masa masih dijewer aja sih.” Gerutu Melza.
“Makanya
jangan bantah terus kalau ada orang lagi bicara.”
“Ye
ibu, jadi orang tua itu yang terbuka dong, masa anaknya berargumen malah
dimarah-marahin terus.”
“Sudah
jangan mendebat ibu terus, sebaiknya kamu mandi sana, lama-lama ibu bisa darah
tinngi ngadepin kamu”
“Lagian
siapa suruh tiap hari ceramah terus. Perasaan dulu waktu kak Dean masih di
rumah juga kayak gini tapi ibu gak marah-marahin dia terus.” Melza memprotes.
“Anak
perempuan itu memang harus selalu dinasehati supaya tidak ngelantur sekehendak
hatinya sendiri. Perempuan itu banyak adatnya, jadi, ibu harus mengajarkan itu
sama___”
“au
ah gelap”. Sahutnya. Kemudian beranjak kekamar mandi sebelum ibunya mencak-mencak
lagi.
“Mel...Melza,
my sweet darling, wait me please....". Baru juga sampai di sekolah
“Maniak” alias Doni, cowok yang
tergila-gila sama Melza berteriak-teriak memanggil Melza sambil berlari-lari mengejarnya,
mirip kayak di film-film India. Mendengar teriakan itu Melza langsung ambil
langkah seribu lari mencari tempat persembunyian yang aman. Dia berlari dan
menyusup diantara teman-temannya dan kemudian setelah lolos dari pandangan mata
si Maniak, dia menyelinap masuk ke kelasnya. “Gila, kalo tiap hari maraton
kayak gini bisa-bisa tubuh gue tinggal tulang-belulang nih.”. gerutu Melza
sesampainya di kelas.
“Kenapa
sih loe? Dateng-dateng ngomel-ngomel”. Tanya Asti, sahabat sekaligus teman
sebangkunya.
“Biasa
tuh makhluk luar angkasa nyebelin gila....”. sahutnya sewot.
“Hahahahaaaa....
ladenin aja Mel, toh dia gak jelek-jelek amat. Malah menurut gue dia tuh imut
lho.”
“Ogah
loe aja sana ladenin tuh makhluk gila.” Melza tambah sebel mendengar komentar
sohibnya yang ngaco banget itu.
“Hehehe....
just kidding non jangan ngamuk dong.” Asti masih juga cengengesan. Belum
sempat Melza menimpali ocehan Asti, pak Ardan masuk ke kelas, senyum yang
memang slalu tersungging di bibir pak Ardan itu mengembang. Senyum itu
selalu menyejukkan begitulah gumam Melza dalam hati. “Selamat pagi semua”.
Sapa pak Ardan ramah
“Pagi
pak”. Jawab anak-anak serempak
“Siap
untuk belajar”
“Siap
pak”
Melza
tak pernah bisa konsentrasi saat diajar pak Ardan. Pikirannya melambung entah
kemana. Dasar anak remaja. Dia sangat menyukai pak Ardan lebih dari sekedar
ngefans. Dia tahu dan sadar sepenuhnya bahwa perasaan itu tak sepantasnya ada.
Tapi begitulah perasaan, tak pernah bisa dicegah ataupun dipaksakan. Meski
begitu, Melza adalah gadis yang sangat pandai menyembunyikan perasaan.
Betapapun sukanya pada guru muda yang gagah dan kebetulan masih single itu, tak
sekalipun dia mencoba mencari-cari perhatian layaknya gadis belia lain. Dia
merasa malu untuk bertindak seperti itu. Tapi bukan berarti dia seorang pemalu,
dia hanya malu jika perasaannya diketahui oleh temannya dan yang lebih parah
lagi diketahui oleh guru muda yang rupawan itu.
Sudah
tiga hari pak Ardan tak menampakkan dirinya di sekolah. Menurut kabar yang
beredar, pak Ardan tak lagi mengajar disini. Beliau mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan kuliyah pasca sarjananya ke Australia. Ketiadaannya membuat semua
siswa pada gelisah dan merasa kehilangan terutama siswa perempuan. Apalagi
Melza, sudah tak perlu ditanya lagi. Sejak mendengar kabar itu, Melza merasa
sudah tak punya semangat lagi pergi ke sekolah. Meski perasaannya gundah
gulana, namun di depan teman-temannya dia berlagak gak peduli. Dia bersikap
seeolah-olah tak ada apa-apa. Melza yang terbuka tentang berbagai hal namun
begitu tertutup dalam masalah hati dan perasaan.
“Woi
ngelamunin apaan sih?”.
“Asti,
please deh gak usah ngagetin juga kali. Untung jantung gue masih bercokol kokoh
ditempatnya”. Melza menggerutu panjang pendek.
“Abis
aja. Ke kelas yuk, ada pak Ardan tuh”. Hati Melza seakan melonjak kegirangan.
Tapi dia tetap bisa mengendalikan diri untuk tidak bersiakap heboh.
“Terus
kenapa kalo ada pak Ardan? Kiamat..? gak kan....”. sahutnya santai. Tubuhnya
bisa ia kontrol, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Bahkan jantungnya
serasa berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya bak orang habis lari
maraton.
“Ih
kok gitu sih... mata loe tuh rabun ya? Ada makhluk seindah itu elo tetap bergeming.
Mau loe tuh yang kayak apa sih? Heran gue”.
Melza
tak menjawab. Dalam hati dia berkata sebenernyaa ya makhluk indah itu yang
gue mau As, hanya saja aku gak pengen siapapun tahu tentang ini. Karena aku
yakin perasaan ku ini hanyalah bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba Melza
berdiri. “Wait... elo mau kemana buk?”. Tanya Asti.
“Gimana
sih loe? Ya ke kelaslah. Katanya tadi ada pak Ardan.” Sahut Melza sambil mulai
berjalan menuju ke kelasnya dan diikuti oleh Asti.
“Loe
tuh yang gimana? Tadi di bilangin sok cuek, eh peduli juga loe”.
Serasa
hampir pingsan Melza melihat pak Ardan. Pak Ardan tampak gagah dengan baju
kerah motif garis warna biru menambah pesonanya. Melihat Melza dan Asti masuk
kelas pak Ardan tersenyum. Senyum yang sangat manis dan menyejukkan hati. Melza
terpaku, bahkan untuk membalas senyum pak Ardan saja dia tidak mampu. “Melza.....
kenapa kamu bengong saja? Tidak mau mengucapkan selamat jalan buat bapak?”.
Melza langsung
melonjak kaget
sekaget-kagetnya melihat pak Ardan sudah berada di depannya dan barusan
menyapanya.
“Oh....
eh..... I....Iya pak”. Melza bingung mau bilang apa dia terlalu gugup untuk
mengucapkan sepatah dua patah kata. Untuk menghilangkan groginya dia menggaruk
kepalanya yang tidak gatal sambil cengar-cengir nggak jelas. “Bapak jadi
berangakat besok ya ke Australia?”. Tanyanya begok.
“Ya
begitulah. Seperti yang sudah direncanakan”. Sahut pak Ardan santai.
Pagi
ini agak suram, sesuram hati Melza. Hari ini guru idola yang juga sebagai wali
kelasnya dan yang paling penting beliau adalah orang yang mengisi hatinya
selama ini, akan meninggalkan tanah air tercinta ini menuju ke negeri Kanguru.
Seharusnya pagi ini dia berada di bandara bersama teman-teman satu kelasnya
untuk melepas keberangkatan pak Ardan. Namun dia tak mau pergi karena dia yakin
dia tak akan sanggup melepas keberangkatan pak Ardan. Makanya dia memutuskan
untuk tiadak pergi. Dia membiarkan waktu terus berjalan dan membiarkan dirinya larut
dalam angannya, larut dalam lamunannya. Hingga siang menjelang, Melza tak juga
beranjak dari kamarnya.
“Mel,
buka pintu dong..... molor aja sih loe”. Suara lantang Asti serasa
mengguncangkan seisi rumah, bahkan mungkin para semut-semut di rumah Melza udah
pada terserang penyakit jantung semua. Melza terlonjak dari tempatnya berada
saking kagetnya. Dia berjalan dengan lunglai dan membuka pintu kamarnya dengan
malas.
“Monyet
loe. Ini rumah orang monyong, bukan hutan. Bisa gak sih pelan dikit volume
suaranya. Heran deh perasaan rumah juga jauh dari air terjun”. Melza
ngomel-ngomel. Sementara tersangkanya hanya senyum-senyum tanpa rasa bersalah.
“Udah
deh gak usah protes. Loe tuh harusnya bersyukur bisa menikmati merdunya suara
gue secara gratis. Hehehe...”. seloroh Asti menanggapi ocehan sahabatnya.
“Haduh
makasih deh, mending gue ngedengerin suara anjing tetangga gue dari pada
ngedengerin suara ancur loe itu”. Sahut Melza.
“Eh
nih ada titipan dari pak Ardan. Napa sih loe tadi gak ke sana?”. Tanya Asti
sambil menyerahkan kotak kecil.
“Apaan
nih?”.
“mana
gue tahu. Tadi pak Ardan bilang kemarin loe nitip ini sama beliau”. Melza
mengerutkan dahi mencoba menerka-nerka apa isi kotak mungil itu. Dia tak pernah
merasa titip apa-apa pada pak Ardan. Biarlah, ntar aja gue buka kalo
Asti udah pulang. Batin Melza.
“Oh... gue mau turun
dulu As, mau makan. Udah makan lom loe?”. Melza meletakkan kotak itu di meja, kemudian
beranjak meninggalkan kamarnya dan pergi keruang makan. Sebenarnya Melza sangat
penasaran apa isi kotak itu. Tapi dia ingin membukanya sendiri.
Di
ruang tengah dilihat ibunya tengah menikmati siaran berita disalah satu stasiun
televisi. “Ada berita apaan sih tante?”. Tanya Asti pada ibunya Melza yang
sudah sangat dikenal oleh Asti.
“Ini
lho As, ada pesawat jatuh”. Jawab sang ibu.
“Pesawat
jurusan mana tante?”. Mentang-mentang dia ketua jurnalistik disekolahnya Asti
jadi berlagak kayak wartawan yang selalu ingin tahu.
“Jurusan
Australi, yang berangkat sekitar jam sepuluh tadi”. Teeang beliau.
“Jurusan
mana bu? Australia? Ibu yakin?”. Kini Melza yang gantian memberondong ibunya
dengan pertanyaan. Nasi yang sudah ada di piringnya ia letakkan kembali dan lari
menghampiri ibunya. Perasaan takut dan khawatir tingkat tinggi merasuk dalam
dirinya.
“Sini
ja kalo gak percaya”. Ucap ibunya kesal.
“Waduh
itu.... itu...itukan pesawat yang ditumpangi pak Ardan tadi Mel”. Ucap Asti
terbata-bata saking paniknya.
You
are not alone.... I am here with you. Lagu milik si raja pop itu
mendayu-dayu dari ponsel Asti. “Hallo Des”. Sapa Asti. “Hah serius loe. Loe
sekarang dimana?. Oke oke ntar gue ama Melza nyusul kesana. Oke bye”.
Asti menutup telephonenya. “Beneran ya As, itu tadi pesawatnya pak Ardan?”.
Tanya Melza setengah gak sadar. Asti tak sanggup menjawab
hanya airmatanya yang
menjelaskan semua.
Seminggu
telah setelah kembalinya pak Ardan pada sang pemilik dunia dan isinya. Namun
mendung tak juga bisa lenyap dari wajah anak-anak didiknya. Mereka masih tak
percaya bahwa guru yang mereka idolakan itu begitu cepat meninggalkan dunia ini
dan tak akan pernah kembali lagi untuk alasan apapun. Serasa baru kemarin
mereka melihat pak Ardan berpamitan pada mereka semua.
Melza
masih menimang-nimang kotak pemberian pak Ardan yang belum juga dibukanya. Dia
mulai merobek kertas kado warna merah yang membungkus kotak itu dengan hati
yang berdebar. Di dalam kotak itu terdapat kotak kecil dan beberapa lembar
kertas. Dibukanya kotak itu, dia kaget tak kepalang. Dari dalam kotak itu
mengalun musik halus nan indah. Sekian lama ia menginginkan kotak music seperti
itu, namun tak pernah disangka pak Ardanlah orang yang mengabulkan keinginannya
itu.
Melza
mengambil lembar-lembar kertasnya dan mulai membacanya satu persatu.
Dia gadis yang berbeda
Dia gadis yang paling berkilau diantara ribuan kilau
Dia bidadari yang slalu hadir di setiap mimpiku
Yang slalu muncul dalam anganku
Tapi sebuah perbedaan membuatku sadar
Sepertinya aku tak pantas untuknya
Melza Anastasia
Melza tertegun
membaca tulisan itu. Dia tak percaya kalo itu benar-benar dari pak Ardan. Tapi
tulisan itu benar-benar style tulisan pak Ardan. Dia lalu mengambil lembar
berikutnya dan mulai membacanya.
Pagi ini mawarku merekah
Merekah begitu indah
Seindah senyum sang bidadari hatiku
Lembar berikutnya
Tiap kuliahat matanya yang redup
Serasa menyelami sammudera
Satu harapan terlintas dibenakku
Aku ingin memilikinya
Namun perbedaan ini membuatku ragu
Akankah dia mau menemani sisa hidupku?
Lembar berikutnya
merupakan lembar-lembar yang membuat Melza tak sanggup menahan air mata yang meronta
hendak keluar dari kelopaknya.
Aku takut....
Takut kehilangan....
Takut saat aku kembali,
Aku sudah tak lagi punya kesempatan
Untuk mengungkapkan semua ini padanya
Aku takut tak bisa melihat wajah bidadari itu
Ini merupakan lembar terakhir.
Melza....
Aku akan pergi membawa rasa ini. Aku ingin kau selalu mengenangku.
Jujur aku ingin selalu bersamamu, melihat senyum manismu. Tapi
untuk saat ini itu tak mungkin.
Melza....
Ingatlah aku selalu. Hatiku kan selalu bersamamu, meski ragaku tak
ada. Anggap saja kotak music ini menemanimu menggantikanku
selama aku pergi. Jika nanti aku tak kembali atau aku tak bisa
memilikimu di dunia aku harap kau sudi menjadi bidadariku di
syurga
nanti.
Melza....
Satu hal yang harus kamu tahu. Aku mencintaimu, sangat
mencintaimu. Aku tahu mungkin kamu akan menganggapku tak
tahu diri gadis yang usianya selisih terlampau jauh. Meski aku
berharap
perasaanku ini tak bertepuk sebelah tangan, tapi aku tak akan
memaksamu untuk membalas perasaanku ini.
By:
Ardan Jordan
Kini Melza
benar-benar sudah tak sanggup berkat-kata. Air matanya kian deras mengalir
membasahi pipinya membuat anak-anak sungai kecil. Dia bahagia, kecewa,
menyesal, dan juga terluka. Kenapa baru sekarang semua itu terungkap? Saat
lelaki yang sangat dicintainya itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun
hatinya sempat berbunga-bunga juga. Dia tak menyangka cintanya tersambut, meski
dia tahu tak mungkin memiliki.
Ternyata
pak Ardan membalas cintanya, ternyata pak Ardan menyukainya, ternyata pak Ardan
tak bisa bersanding dengannya, ternyata hidup ini penuh liku-liku, ternyata
dunia ini penuh tanda tanya, ternyata dunia ini hanyalah panggung sandiwara,
ternyata hidup ini rumit. Ternyata, ternyata, dan ternyata. Ternyata hidup ini
penuh kejutan.
By:
Akimoto Sachiko (In Pacitan, On Saturday,
March 24, 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar