Selasa, 12 Agustus 2014

“MIMPI DATANG BENAR”


            Di kota ini, aku mengukir kisah baru, mengenal tman baru, mengunjungi tempat baru, dan membuat sejarah baru dalam hidupku. Awalnya aku sama sekali tidak kerasan tinggal disini, di tempat yang serba baru ini. Rasanya aku ingin melarikan diri dan meninggalkan kuliahku disini. Tapi sekarang aku sungguh mensyukuri keputusanku untuk bertahan disini.
            Disini, di kota Arema ini, aku menemukan keajaiban yang benar-benar diluar dugaanku. Bermula dari kegiatan kampusku yang diadakan setiap hari minggu itu, aku mulai munyukainya. Aku masih tak tau apa yang membuat dia begitu menarik buatku. Dan masih saja tak tau sampai sekarang. Kupikir aku ini gila, dan mungkin memang gila. Aku selalu membantah hadirnya rasa itu dengan memberikan sugesti pada diriku sendiri. “Aku hanya boleh suka sama Raka, Tama itu cuma sahabat dan gk boleh lebih dari itu”. Tapi sungguh sial, semakin aku memberi sugesti, justru membuatku semakin suka sama dia. Aku semakin gila memikirkan itu.
            Sampai suatu hari kutanyakan pada Vita temenku, “Apakah aku gila?”. Dia menanyakan kenapa dan aku mulai menceritakan semuanya, awalnya aku tak sebut merk, tapi dia sudah bisa menebak siapa orang yang aku maksudkan.
            Bagaimana itu bisa terjadi? Aku tau rasa sukaku padanya itu tak kan berbalas dan disisi lain aku adalah pacar dari sahabatnya sendiri yang bahkan mereka berdua sudah seperti kakak adik. Tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku bisa pasang tampang biasa berharap tak seorangpun tau tentang ini terutama dia sendiri dan Raka. Aku tak tahu seperti apa wanita tipenya, tapi aku yakin itu bukan sepertiku. Aku bukan tipe yang bagus buat lelaki. Aku tak cantik, tak pandai, tak juga berkepribadian lembut. Kalaupun ada yang suka sama aku biasanya kubilang dia aneh seperti halnya Raka.
            Tama itu orang kepercayaan Raka buat ngejagain aku selama Raka tak disampingku. Dan dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Kemanapun perginya aku, Raka hanya akan diam dan percaya kalau aku perginya dengan dia. Tapi tak seorangpun menyadari bahwa disitulah celahnya. Aku mulai menyukainya seiring kebersamaan itu. Tiap kemanapun hampir selalu bareng dia, sampai-sampai ada teman kami yang mengatakan “kalian ini pacaran terus”. Kami hanya menanggapinya dengan senyum dia tak pernah mencoba menyangkal begitupun aku. Semua orang tau kalau aku sudah ada yang punya, dan itu sahabatnya sendiri.
            Sering kali kami juga berbagi kisah, tentang masa lalu, tentang keluarga dan tentang apa yang ingin kami capai dalam hidup. Sering juga aku mengeluh tentang Raka padanya. Sampai suatu waktu kami menceritakan masa lalu. Dia menceritakan mantannya, bagaimana dia putus dan bagaimana protectivenya sang mantan itu sewaktu jadi pacarnya. Dia itu sama kayak aku gak suka diatur-atur. Bedanya dia lebih brutal dari aku.
            Tiba-tiba diakhir ceritanya terbesit sebuah tanya dalam benakku. Apakah saat ini ada orang yang dia suka? Apakah ada orang yang sedang diincarnya? Dan akhirnya yang keluar adalah “Trus sekarang adakah orang yang sedang kamu incar”. Dan jawabannya adalah “Untuk saat ini sih gak ada”. Ada rasa senang terbesit dalam hatiku kuberfikiir berarti tak ada orang yang disukainya saat ini. Tapi sekarang kusesali pertanyaan itu. Harusnya yang kutanyakan adalah “Apakah sekarang kamu suka seseorang?” Harusny pertanyaa itu yang kuajukan seandainya saja waktu itu aku sudah tau atau setidaknya aku tau rambu-rambunya.
            Hari-hari terus berganti. Aku semakin mengenalnya dan aku semakin dekat dengannya. Saat ini kami memasuki semester 4 dan dia mungkin tak pernah tau perasaanku padanya. Karna usianya yang lebih muda dariku makanya dia sering kupanggil adik dan itu membuat kami semakin dekat. Aku sudah cukup bahagia dengan itu. Setidaknya aku masih bisa ada disampingnya, bisa berbagi cerita meski hanya sebagai sahabatnya.
            Semester ini aku mulai mengikuti sebuah organisasi extra kampus. Dan inilah awal dari kehancuran hubunganku dengan Raka. Raka semakin protective sama aku, dan aku juga semakin sulit dibilangin. Aku lelah diatur-atur dan Raka juga tau itu. Semua semakin memanas saat aku beberapa kali mengadakan kegiatan diluar tanpa adanya Tama bersamaku, karna memang Tama tak mengikuti organisasi ini. Setiap kegiatan yang kuikuti selalu semakin memicu pertengkaran. Aku selalu mencoba untuk jadi air biar gak semakin memanas, tapi itu gak merubah apapun juga, sampai akhirnya aku rasa hubungan kami sudah tak bisa diselamatkan. Seperti bom waktu aku akhirnya meledak tanpa toleran. Dan itu mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan Raka yang sudah hampir 1,5 tahun ini. mengakhiri hubungan yang sudah tak sejalan lagi, hubungan yang sudah tak ada kepercayaan lagi. Dan mungkin aku memang pantas mendapatkan ini. tidak seharusnya aku mempertahankan dia sementara ada orang lain yang ada dihatiku, meskipun aku tak tau apakah dia memiliki rasa yang sama atau hanya menganggapku sebagai sahabatnya.
            Beberapa hari kemudian, Raka sudah memajang fotonya berdampingan dengan foto perempuan. Aku tak tau siapa itu. Jujur aku kaget melihat itu. Putusku dengan dia sepertinya sudah diperkirakan. Aku hanya menahan diri dan berucap dalam hati “oh.. jadi begitu ya”.
            Tak lama kemudian Tama mengahampiriku. Dia tak seusil biasanya. Dia bertanya padaku tanpa memandangku “berantem ya?” dan aku menjawab “enggak, aku udah selesai ama dia”. Dia tak bertanya kenapa berakhir atau ada masalah apa kok bisa gitu?. Dia hanya diam dan meminjam laptopku kemudian dia bergurau sedikit dan aku hanya bisa menanggapinya dengan sedikit senyuman.
            Sepulangnya aku dari kampus, dia mengirim sms “hari ini kamu aneh gak seperti Irma yang kukenal”. Kemudian ku jawab “Aneh gimana sih?”
            “Irma yang kukenal itu kalau tertawa lepas, gak seperti tadi”.
            “Emang ketawaku tadi gimana?”
            “Ketawamu aneh”. Setelah itu kami masih terus sms sampai larut malam, sampai aku tertidur. Terpikir dalam benakku ternyata dia perhatian juga sama aku.
            Smsan ku sama dia masih berlanjut. Kupikir dia juga aneh. Dia yang kukenal itu gak betah smsan berlama-lama. Tapi beberapa hari ini entah ada hembusan angin syurga dari mana sampai membuat dia betah smsan lama, bahkan sangat lama untuk ukuran seorang Tama. Untuk memuaskan rasa ingin tau ku ini aku iseng-iseng bertanya sama dia. “Tumben kamu kerasan smsan lama?” Dan kemudian dia menjawabnya “Ini demi kamu, sampai aku gak main game”. Aku hanya tertawa menanggapinya. Jujur ada rasa GR juga sih terselip dihatiku berharap apa yang dikatakannya itu beneran gak Cuma sekedar gurauan. Tapi lagi-lagi aku menyadarkan diriku bahwa dia melakukan ini Cuma buat menghiburku sebagai sahabat yang baru saja putus.
            Suatu malam saat smsan sama dia lagi-lagi aku memanggilnya adik dan saat itu juga dia protes. “Aku gak mau kalo Cuma jadi adik”. Agak kaget juga aku ngedengerinnya. Ada debaran yang kucoba acuhkan. Kemudian aku membalasnya “Terus maunya kamu jadi apa?”. Beberapa saat kemudian dia membalas lagi “Jadi seseorang yang penting dihatimu”. Aku semakin tertegun dengan ini. tapi kemudian aku kembali bisa mengendalikan diriku.
            “Hmm... sahabat penting buat aku, pacar juga penting, keluarga penting juga. Mau jadi yang mana?”. Tak lama kemudian dia membalas. “Pilihan yang kedua boleh juga”. Tanpa sadar aku mulai tersenyum-senyum sendiri membacanya.
            “Pacar?”. Kemudian dia menjawab iya. Kali ini hatiku benar-benar senang sekali tanpa peduli itu benar atau Cuma lelucon. Aku balas lagi bahwa kalau mau jadi pacarku aku punya syarat yaitu harus berani mengungkapkannya di depanku langsung dan dia menjawab “oke, bisa diatur”.
            Saat tersadar dan aku harus kembali pada kebenaran bahwa mungkin ini masih gurauan. Aku berusaha untuk meyakinkan diriku lagi bahwa ini gurauan jadi aku tak boleh berharap lebih dari ini. tapi aku perlu konfirmasi sesuatu. Aku mengiriminya sms lagi. “Makasih ya, dengan gurauan-gurauanmu itu bikin aku ketawa lagi dan bikin aku terhibur banget. Mungkin kalo gak ada kamu aku hanya akan terdiam dan terpuruk”.
            Kutunggu balasannya aku berharap suatu keajaiban meskipun kemungkinannya 0,01% tapi gak ada salahnya juga berharap. Beberapa saat kemudian balasan darinya masuk. Balasan yang merupakan keajaiban besar buat aku. “Gimana kalau itu bukan Cuma gurauan?”. Aku semakin terdiam membaca ini. dia bener-bener tau gimana caranya membuatku melambung tinggi. Aku masih ingin memastikan. “Maksudmu?”. Jantungku semakin cepat detaknya sampai-sampai terasa susah bernafas.
            “Ya kalau semua benar bukan Cuma gurauan”. Itu jawabannya. Aku masih gak percaya itu, berkali-kali kutanyakan lagi apakah itu beneran. Dia bilang bahwa sudah lama dia suka sama aku hanya saja dia kalah start sama Raka. Aku bener-bener gak tau harus ngomong apa saking bahagianya. Aku mencubit lenganku benarkah ini nyata bukan mimpi seperti yang dulu-dulu?. Dan ternyata terasa sakit, itu artinya aku tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan. Cintaku untuknya terbalas bahkan sebelum aku mulai. Mimpi-mimpi yang selama ini hadir ditidurku, sekarang jadi kenyataan. “Mimpi Datang Benar” itu yang dia katakan padaku. J
By:
Akimoto Sachiko, Malang, 10 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar