Di
kota ini, aku mengukir kisah baru, mengenal tman baru, mengunjungi tempat baru,
dan membuat sejarah baru dalam hidupku. Awalnya aku sama sekali tidak kerasan
tinggal disini, di tempat yang serba baru ini. Rasanya aku ingin melarikan diri
dan meninggalkan kuliahku disini. Tapi sekarang aku sungguh mensyukuri
keputusanku untuk bertahan disini.
Disini,
di kota Arema ini, aku menemukan keajaiban yang benar-benar diluar dugaanku.
Bermula dari kegiatan kampusku yang diadakan setiap hari minggu itu, aku mulai
munyukainya. Aku masih tak tau apa yang membuat dia begitu menarik buatku. Dan
masih saja tak tau sampai sekarang. Kupikir aku ini gila, dan mungkin memang
gila. Aku selalu membantah hadirnya rasa itu dengan memberikan sugesti pada diriku
sendiri. “Aku hanya boleh suka sama Raka, Tama itu cuma sahabat dan gk boleh
lebih dari itu”. Tapi sungguh sial, semakin aku memberi sugesti, justru
membuatku semakin suka sama dia. Aku semakin gila memikirkan itu.
Sampai
suatu hari kutanyakan pada Vita temenku, “Apakah aku gila?”. Dia menanyakan
kenapa dan aku mulai menceritakan semuanya, awalnya aku tak sebut merk, tapi
dia sudah bisa menebak siapa orang yang aku maksudkan.
Bagaimana
itu bisa terjadi? Aku tau rasa sukaku padanya itu tak kan berbalas dan disisi
lain aku adalah pacar dari sahabatnya sendiri yang bahkan mereka berdua sudah
seperti kakak adik. Tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku
bisa pasang tampang biasa berharap tak seorangpun tau tentang ini terutama dia
sendiri dan Raka. Aku tak tahu seperti apa wanita tipenya, tapi aku yakin itu
bukan sepertiku. Aku bukan tipe yang bagus buat lelaki. Aku tak cantik, tak
pandai, tak juga berkepribadian lembut. Kalaupun ada yang suka sama aku
biasanya kubilang dia aneh seperti halnya Raka.
Tama
itu orang kepercayaan Raka buat ngejagain aku selama Raka tak disampingku. Dan
dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Kemanapun perginya aku, Raka hanya
akan diam dan percaya kalau aku perginya dengan dia. Tapi tak seorangpun menyadari
bahwa disitulah celahnya. Aku mulai menyukainya seiring kebersamaan itu. Tiap
kemanapun hampir selalu bareng dia, sampai-sampai ada teman kami yang
mengatakan “kalian ini pacaran terus”. Kami hanya menanggapinya dengan senyum
dia tak pernah mencoba menyangkal begitupun aku. Semua orang tau kalau aku
sudah ada yang punya, dan itu sahabatnya sendiri.
Sering
kali kami juga berbagi kisah, tentang masa lalu, tentang keluarga dan tentang
apa yang ingin kami capai dalam hidup. Sering juga aku mengeluh tentang Raka
padanya. Sampai suatu waktu kami menceritakan masa lalu. Dia menceritakan
mantannya, bagaimana dia putus dan bagaimana protectivenya sang mantan itu
sewaktu jadi pacarnya. Dia itu sama kayak aku gak suka diatur-atur. Bedanya dia
lebih brutal dari aku.
Tiba-tiba
diakhir ceritanya terbesit sebuah tanya dalam benakku. Apakah saat ini ada
orang yang dia suka? Apakah ada orang yang sedang diincarnya? Dan akhirnya yang
keluar adalah “Trus sekarang adakah orang yang sedang kamu incar”. Dan
jawabannya adalah “Untuk saat ini sih gak ada”. Ada rasa senang terbesit dalam
hatiku kuberfikiir berarti tak ada orang yang disukainya saat ini. Tapi
sekarang kusesali pertanyaan itu. Harusnya yang kutanyakan adalah “Apakah
sekarang kamu suka seseorang?” Harusny pertanyaa itu yang kuajukan seandainya
saja waktu itu aku sudah tau atau setidaknya aku tau rambu-rambunya.
Hari-hari
terus berganti. Aku semakin mengenalnya dan aku semakin dekat dengannya. Saat
ini kami memasuki semester 4 dan dia mungkin tak pernah tau perasaanku padanya.
Karna usianya yang lebih muda dariku makanya dia sering kupanggil adik dan itu
membuat kami semakin dekat. Aku sudah cukup bahagia dengan itu. Setidaknya aku
masih bisa ada disampingnya, bisa berbagi cerita meski hanya sebagai
sahabatnya.
Semester
ini aku mulai mengikuti sebuah organisasi extra kampus. Dan inilah awal dari
kehancuran hubunganku dengan Raka. Raka semakin protective sama aku, dan aku
juga semakin sulit dibilangin. Aku lelah diatur-atur dan Raka juga tau itu.
Semua semakin memanas saat aku beberapa kali mengadakan kegiatan diluar tanpa
adanya Tama bersamaku, karna memang Tama tak mengikuti organisasi ini. Setiap
kegiatan yang kuikuti selalu semakin memicu pertengkaran. Aku selalu mencoba
untuk jadi air biar gak semakin memanas, tapi itu gak merubah apapun juga,
sampai akhirnya aku rasa hubungan kami sudah tak bisa diselamatkan. Seperti bom
waktu aku akhirnya meledak tanpa toleran. Dan itu mengakhiri semuanya,
mengakhiri hubunganku dengan Raka yang sudah hampir 1,5 tahun ini. mengakhiri
hubungan yang sudah tak sejalan lagi, hubungan yang sudah tak ada kepercayaan
lagi. Dan mungkin aku memang pantas mendapatkan ini. tidak seharusnya aku
mempertahankan dia sementara ada orang lain yang ada dihatiku, meskipun aku tak
tau apakah dia memiliki rasa yang sama atau hanya menganggapku sebagai
sahabatnya.
Beberapa
hari kemudian, Raka sudah memajang fotonya berdampingan dengan foto perempuan.
Aku tak tau siapa itu. Jujur aku kaget melihat itu. Putusku dengan dia
sepertinya sudah diperkirakan. Aku hanya menahan diri dan berucap dalam hati
“oh.. jadi begitu ya”.
Tak
lama kemudian Tama mengahampiriku. Dia tak seusil biasanya. Dia bertanya padaku
tanpa memandangku “berantem ya?” dan aku menjawab “enggak, aku udah selesai ama
dia”. Dia tak bertanya kenapa berakhir atau ada masalah apa kok bisa gitu?. Dia
hanya diam dan meminjam laptopku kemudian dia bergurau sedikit dan aku hanya
bisa menanggapinya dengan sedikit senyuman.
Sepulangnya
aku dari kampus, dia mengirim sms “hari ini kamu aneh gak seperti Irma yang
kukenal”. Kemudian ku jawab “Aneh gimana sih?”
“Irma
yang kukenal itu kalau tertawa lepas, gak seperti tadi”.
“Emang
ketawaku tadi gimana?”
“Ketawamu
aneh”. Setelah itu kami masih terus sms sampai larut malam, sampai aku
tertidur. Terpikir dalam benakku ternyata dia perhatian juga sama aku.
Smsan
ku sama dia masih berlanjut. Kupikir dia juga aneh. Dia yang kukenal itu gak
betah smsan berlama-lama. Tapi beberapa hari ini entah ada hembusan angin
syurga dari mana sampai membuat dia betah smsan lama, bahkan sangat lama untuk
ukuran seorang Tama. Untuk memuaskan rasa ingin tau ku ini aku iseng-iseng
bertanya sama dia. “Tumben kamu kerasan smsan lama?” Dan kemudian dia
menjawabnya “Ini demi kamu, sampai aku gak main game”. Aku hanya tertawa menanggapinya.
Jujur ada rasa GR juga sih terselip dihatiku berharap apa yang dikatakannya itu
beneran gak Cuma sekedar gurauan. Tapi lagi-lagi aku menyadarkan diriku bahwa
dia melakukan ini Cuma buat menghiburku sebagai sahabat yang baru saja putus.
Suatu
malam saat smsan sama dia lagi-lagi aku memanggilnya adik dan saat itu juga dia
protes. “Aku gak mau kalo Cuma jadi adik”. Agak kaget juga aku ngedengerinnya.
Ada debaran yang kucoba acuhkan. Kemudian aku membalasnya “Terus maunya kamu
jadi apa?”. Beberapa saat kemudian dia membalas lagi “Jadi seseorang yang
penting dihatimu”. Aku semakin tertegun dengan ini. tapi kemudian aku kembali
bisa mengendalikan diriku.
“Hmm...
sahabat penting buat aku, pacar juga penting, keluarga penting juga. Mau jadi
yang mana?”. Tak lama kemudian dia membalas. “Pilihan yang kedua boleh juga”.
Tanpa sadar aku mulai tersenyum-senyum sendiri membacanya.
“Pacar?”.
Kemudian dia menjawab iya. Kali ini hatiku benar-benar senang sekali tanpa
peduli itu benar atau Cuma lelucon. Aku balas lagi bahwa kalau mau jadi pacarku
aku punya syarat yaitu harus berani mengungkapkannya di depanku langsung dan
dia menjawab “oke, bisa diatur”.
Saat
tersadar dan aku harus kembali pada kebenaran bahwa mungkin ini masih gurauan.
Aku berusaha untuk meyakinkan diriku lagi bahwa ini gurauan jadi aku tak boleh
berharap lebih dari ini. tapi aku perlu konfirmasi sesuatu. Aku mengiriminya
sms lagi. “Makasih ya, dengan gurauan-gurauanmu itu bikin aku ketawa lagi dan
bikin aku terhibur banget. Mungkin kalo gak ada kamu aku hanya akan terdiam dan
terpuruk”.
Kutunggu
balasannya aku berharap suatu keajaiban meskipun kemungkinannya 0,01% tapi gak
ada salahnya juga berharap. Beberapa saat kemudian balasan darinya masuk.
Balasan yang merupakan keajaiban besar buat aku. “Gimana kalau itu bukan Cuma
gurauan?”. Aku semakin terdiam membaca ini. dia bener-bener tau gimana caranya
membuatku melambung tinggi. Aku masih ingin memastikan. “Maksudmu?”. Jantungku
semakin cepat detaknya sampai-sampai terasa susah bernafas.
“Ya
kalau semua benar bukan Cuma gurauan”. Itu jawabannya. Aku masih gak percaya
itu, berkali-kali kutanyakan lagi apakah itu beneran. Dia bilang bahwa sudah
lama dia suka sama aku hanya saja dia kalah start sama Raka. Aku bener-bener
gak tau harus ngomong apa saking bahagianya. Aku mencubit lenganku benarkah ini
nyata bukan mimpi seperti yang dulu-dulu?. Dan ternyata terasa sakit, itu
artinya aku tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan. Cintaku untuknya terbalas
bahkan sebelum aku mulai. Mimpi-mimpi yang selama ini hadir ditidurku, sekarang
jadi kenyataan. “Mimpi Datang Benar” itu yang dia katakan padaku. J
By:
Akimoto
Sachiko, Malang, 10 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar