Selasa, 12 Agustus 2014

SELAMAT JALAN


            Seminggu lagi. Ya, seminggu lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai. Dia orang yang membawaku dari keterpurukan. Dia yang membuatku move on dari masa laluku. Dia laki-laki yang luar biasa, dia seperti keajaiban buatku. Dia tau betapa dulu aku begitu mencintai seseorang dimasa lalu, tapi itupun tak pernah membuatnya goyah sedikitpun. “Biarkan saja dia pernah memiliki hatimu dimasa lalu, itu tak penting lagi, yang terpenting adalah sekarang dan dimasa depan hatimu milikku, itu sudah lebih cukup. Mungkin kamu kan mengenang dia sepanjang hidupmu, tapi aku kan slalu disisimu disisa hidupmu dan hidupku”.
            Dia Gian. Orang yang sudah merubah hidupku, dan mencerahkan hariku. Dia bukan orang yang bisa serius, dia orang yang humoris. Tapi ada saat dia membuatku benar-benar tercengang, yaitu saat dia melamarku dan membuktikan kesungguhannya dengan mendatangi orang tuaku dan mengatakan didepan mereka bahwa dia akan menikahiku. Itu pertama kalinya aku melihat dia serius. Tatapan matanya tajam, tidak jenaka seperti biasanya. Cara bicaranya juga sangat formal. Aku sampai tertegun melihatnya waktu itu. “Ini beneran Gian bukan sih?”. Tanyaku dalam hati. Tapi dia memang Gian.
            “drrrttt.... drrrrtt...”. Getaran dari ponselku membuyarkan lamunanku seketika. Aku menghampiri meja dan kulihat ada pesan masuk. Pesan yang membuatku benar-benar membuatku terlonjak kaget. “Novan?” gumamku pelan. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba mengirimiku pesan dan mengajakku bertemu. “Mau apa dia?” batinku. Belum sempat aku membalas pesannya, ada pesan masuk lagi darinya mengatakan bahwa dia sudah didepan rumahku. Mau tak mau aku harus menemui dia. Lagian biar bagaimanapun dia adalah sahabatku dari kecil, jadi rasanya tidak etis aja kalau tidak menemuinya. Apalagi dia juga bukan orang asing dirumah ini. biasanya kalau aku tak mau nemuin, dia bakalan masuk rumah dan sok-sok akrab sama orang tuaku. Emang sih mereka akrab karna orang tuaku sudah mengenalnya sejak kecil.
            Saat aku keluar, dia sudah nongkrong di atas motornya di depan rumahku. Aku tersenyum dan kemudian menghampirinya. “Ada apa Van? Tumben main kesini”. Dia Cuma tersenyum menanggapi pertanyaanku. “Kamu makin cantik aja Di”. Ucapnya tiba-tiba.
            “Udah deh gak usah gombal-gombal, gak mempan kali sama aku”.
            “Lho beneran Di, aku sampai jatuh cinta lagi sama kamu”.
            “Hahaaha.... udahan ah bercandanya. Kapan pulang dari Medan?”
            “Barusan. Mampir rumah bentar, trus langsung kesini”.
            “gak kerumah Sita?”
            Lagi-lagi dia tak menjawab. Hanya menghela nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Kemudian dia mulai bicara. “Diana, ini aku mau ngomong serius nih. Di, aku, dari dulu sampai sekarang, aku masih suka sama kamu Di. Emang seperti yang kamu tau, aku sudah menjelajahi hati banyak wanita, tapi akhirnya aku sadar Di, gak ada yang sespesial kamu, gak ada yang bisa kucintai seperti aku mencintai kamu.”
            Aku terdiam mendengar pengakuannya barusan. Saking kagetnya sampai aku lemes dan harus cari pegangan buat tetap berdiri. Beruntung ada pohon didekatku yang bisa kupakai buat pegangan. Tujuh tahun aku menunggu kata-kata itu keluar dari mulutnya, berharap aku masih punya kesempatan buat ngisi hari-hari bersamanya lagi. Tapi kenapa? Kesempatan itu justru datang saat aku sudah berhasil mencintai orang lain bahkan kami sudah hendak menikah. Dunia macam apa yang aku tinggali ini?
            “Diana” dia mendekat dan menyentuh pundakku tapi aku menepis tangannya dan menghindar. Aku berusaha kembali tegak berdiri. “Maaf Van, aku gak bisa nerima kamu lagi.”
            “Kenapa Di? Apakah sudah ada orang lain? Atau rasa itu sudah tak ada lagi?”
            Aku tersenyum simpul. “Perlu kamu tau Van, sampai satu tahun lalu aku masih menunggumu, berharap kamu kan kembali sama aku. Tapi kenyataannya gak ada, aku tetap hanya sahabat buat kamu. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti menunggu. Dan saat itu juga aku menemukan sosok lain yang perlahan-lahan bisa aku sukai sampai sekarang. Dan seminggu lagi kami akan menikah Van, kuharap kamu mau datang nanti” aku menghela nafas sangat dalam.
            “Jadi aku sudah terlambat Di?” kutatap wajahnya sejenak. Tampak pucat dan matanya berkaca-kaca.
            “Bisa dibilang begitu” jawabku singkat.
            “Oke. Emang aku yang bodoh Di selama ini. Semoga kamu bahagia sama dia. Aku slalu berharap yang terbaik buat kamu, meskipun itu tidak denganku. Trimakasih Di, pernah menyimpan aku dihatimu, dan maaf karna aku bodoh membiarkanmu menunggu begitu lama. Aku tak akan datang kepernikahanmu Di. Maaf aku tak kan sanggup melihatmu dipelaminan. Aku takut menghancurkan acara paling sakralmu itu.” Selesai berkata demikian dia naik motornya. “Di, aku pamit dulu”. Tanpa menunggu jawaban dariku dia lansung tancap gas. “Hati-hati Van”. Ucapku dalam hati.
            Belum juga aku membalikkan badanku untuk kembali kerumah, terlihat olehku cahaya terang dari arah Novan barusan pergi dan sesaat kemudian terdengar benturan yang sangat keras membuatku terkejut. “Novan”. Tanpa menunggu lama aku langsung berlari kearah sumber suara, dan seperti yang kuduga terjadi tabrakan disitu.
            Aku langsung lemas melihat semua ini. antara percaya dan tidak. Air mataku sudah tertumpah ruah tak bisa kubendung. Motor Novan remuk dan dia terpental sekitar lima meter dari motornya. Dia tergeletak dipinggir jalan tanpa ada gerakan. Perlahan aku menghampirinya. “Vaan... Novan....”. aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, kulihat wajahnya sudah penuh darah dan sudah tak ada gerakan lagi kutempelkan telingaku kedadanya, detak jantungnya sudah tak terdengar, ku pegang pergelangan tangannya, denyut nadinya juga tak kurasakan lagi. “Novaan, kamu denger suaraku kan, Vaaaaannnn.... tolong jangan seperti ini, Van bangun”. Semuanya percuma saja dia sudah tak ada betapapun aku menangis, betapapun aku berteriak dia tetap bergeming.
            Tiba-tiba aku merasa sangat takut dan berlari seperti orang gila meninggalkan jasad Novan yang kini dikerumuni banyak orang. aku terduduk dipinggir jalan. Kucari ponselku dan kutekan nomor Gian. Tubuhku gemetar dan aku hanya bisa menangis saat kudengar suara Gian. Dia menenangkanku dengan sabar sampai aku bisa mengucapakan kata dengan terbata-bata. Aku memintanya untuk datang.
            Aku masih duduk dipinggir jalan sambil memegangi kakiku yang sangat dingin, ayah dan bunda menghampiriku dan mengajakku pulang tapi aku tetap tak mau pindah. Tak lama kemudian Gian datang dan langsung menghampiriku. Ayah dan bunda menceritakan tragedi itu, kemudian dia memelukku, menenangkan aku. Aku membalas memelukknya dengan sangat erat. “Sudah yuk kita pulang dia juga sudah dibawa pulang”.
            Sesampainya dirumah dia langsung menidurkanku di ranjang kamarku dan menyelimuti tubuhku. Bercak-bercak darah masih ada ditubuhku tapi siapa yang mau peduli. Gian duduk disamping ranjangku dan mengusap lembut rambutku sampai aku tenang dan mulai bercerita. Aku merasa bersalah juga sama dia, dihari-hari menjelang pernikahan kita aku masih menemui mantanku. Tapi dia ngerti dengan keadaanku dia tak marah.
            Esok harinya kami ikut mengantar Novan pemakamannya. Melihatnya diturunkan ke liang lahat, aku tak sanggup menahan air mataku. Aku memeluk Gian erat-erat berharap bisa menghentikan air mata ini, Gian membalas memelukku lembut. Aku masih berdiri disana bersama Gian saat semua orang telah pergi. Aku duduk didepan makamnya menyentuh namanya yang terukir dibatu nisan. Gian menyentuh pundakku “Biarkan dia beristirahat dengan tenang disana”. Aku berdiri dan Gian menuntunku meninggalkan pemakaman Novan. “Selamat jalan Novan, semoga kan kamu temukan bidadarimu disana”.

By :
Akimoto Sachiko, Malang, 11 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar