Seminggu
lagi. Ya, seminggu lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang sangat aku
cintai. Dia orang yang membawaku dari keterpurukan. Dia yang membuatku move on
dari masa laluku. Dia laki-laki yang luar biasa, dia seperti keajaiban buatku.
Dia tau betapa dulu aku begitu mencintai seseorang dimasa lalu, tapi itupun tak
pernah membuatnya goyah sedikitpun. “Biarkan saja dia pernah memiliki hatimu
dimasa lalu, itu tak penting lagi, yang terpenting adalah sekarang dan dimasa
depan hatimu milikku, itu sudah lebih cukup. Mungkin kamu kan mengenang dia
sepanjang hidupmu, tapi aku kan slalu disisimu disisa hidupmu dan hidupku”.
Dia
Gian. Orang yang sudah merubah hidupku, dan mencerahkan hariku. Dia bukan orang
yang bisa serius, dia orang yang humoris. Tapi ada saat dia membuatku
benar-benar tercengang, yaitu saat dia melamarku dan membuktikan kesungguhannya
dengan mendatangi orang tuaku dan mengatakan didepan mereka bahwa dia akan
menikahiku. Itu pertama kalinya aku melihat dia serius. Tatapan matanya tajam,
tidak jenaka seperti biasanya. Cara bicaranya juga sangat formal. Aku sampai
tertegun melihatnya waktu itu. “Ini beneran Gian bukan sih?”. Tanyaku dalam
hati. Tapi dia memang Gian.
“drrrttt....
drrrrtt...”. Getaran dari ponselku membuyarkan lamunanku seketika. Aku
menghampiri meja dan kulihat ada pesan masuk. Pesan yang membuatku benar-benar
membuatku terlonjak kaget. “Novan?” gumamku pelan. Tak ada angin tak ada hujan
tiba-tiba mengirimiku pesan dan mengajakku bertemu. “Mau apa dia?” batinku. Belum
sempat aku membalas pesannya, ada pesan masuk lagi darinya mengatakan bahwa dia
sudah didepan rumahku. Mau tak mau aku harus menemui dia. Lagian biar
bagaimanapun dia adalah sahabatku dari kecil, jadi rasanya tidak etis aja kalau
tidak menemuinya. Apalagi dia juga bukan orang asing dirumah ini. biasanya
kalau aku tak mau nemuin, dia bakalan masuk rumah dan sok-sok akrab sama orang
tuaku. Emang sih mereka akrab karna orang tuaku sudah mengenalnya sejak kecil.
Saat
aku keluar, dia sudah nongkrong di atas motornya di depan rumahku. Aku
tersenyum dan kemudian menghampirinya. “Ada apa Van? Tumben main kesini”. Dia
Cuma tersenyum menanggapi pertanyaanku. “Kamu makin cantik aja Di”. Ucapnya
tiba-tiba.
“Udah
deh gak usah gombal-gombal, gak mempan kali sama aku”.
“Lho
beneran Di, aku sampai jatuh cinta lagi sama kamu”.
“Hahaaha....
udahan ah bercandanya. Kapan pulang dari Medan?”
“Barusan.
Mampir rumah bentar, trus langsung kesini”.
“gak
kerumah Sita?”
Lagi-lagi
dia tak menjawab. Hanya menghela nafas dalam-dalam dan kemudian
menghembuskannya. Kemudian dia mulai bicara. “Diana, ini aku mau ngomong serius
nih. Di, aku, dari dulu sampai sekarang, aku masih suka sama kamu Di. Emang
seperti yang kamu tau, aku sudah menjelajahi hati banyak wanita, tapi akhirnya aku
sadar Di, gak ada yang sespesial kamu, gak ada yang bisa kucintai seperti aku
mencintai kamu.”
Aku
terdiam mendengar pengakuannya barusan. Saking kagetnya sampai aku lemes dan
harus cari pegangan buat tetap berdiri. Beruntung ada pohon didekatku yang bisa
kupakai buat pegangan. Tujuh tahun aku menunggu kata-kata itu keluar dari
mulutnya, berharap aku masih punya kesempatan buat ngisi hari-hari bersamanya
lagi. Tapi kenapa? Kesempatan itu justru datang saat aku sudah berhasil
mencintai orang lain bahkan kami sudah hendak menikah. Dunia macam apa yang aku
tinggali ini?
“Diana”
dia mendekat dan menyentuh pundakku tapi aku menepis tangannya dan menghindar.
Aku berusaha kembali tegak berdiri. “Maaf Van, aku gak bisa nerima kamu lagi.”
“Kenapa
Di? Apakah sudah ada orang lain? Atau rasa itu sudah tak ada lagi?”
Aku
tersenyum simpul. “Perlu kamu tau Van, sampai satu tahun lalu aku masih
menunggumu, berharap kamu kan kembali sama aku. Tapi kenyataannya gak ada, aku
tetap hanya sahabat buat kamu. Sampai akhirnya aku memilih untuk berhenti
menunggu. Dan saat itu juga aku menemukan sosok lain yang perlahan-lahan bisa
aku sukai sampai sekarang. Dan seminggu lagi kami akan menikah Van, kuharap
kamu mau datang nanti” aku menghela nafas sangat dalam.
“Jadi
aku sudah terlambat Di?” kutatap wajahnya sejenak. Tampak pucat dan matanya
berkaca-kaca.
“Bisa
dibilang begitu” jawabku singkat.
“Oke.
Emang aku yang bodoh Di selama ini. Semoga kamu bahagia sama dia. Aku slalu
berharap yang terbaik buat kamu, meskipun itu tidak denganku. Trimakasih Di,
pernah menyimpan aku dihatimu, dan maaf karna aku bodoh membiarkanmu menunggu
begitu lama. Aku tak akan datang kepernikahanmu Di. Maaf aku tak kan sanggup
melihatmu dipelaminan. Aku takut menghancurkan acara paling sakralmu itu.” Selesai
berkata demikian dia naik motornya. “Di, aku pamit dulu”. Tanpa menunggu
jawaban dariku dia lansung tancap gas. “Hati-hati Van”. Ucapku dalam hati.
Belum
juga aku membalikkan badanku untuk kembali kerumah, terlihat olehku cahaya
terang dari arah Novan barusan pergi dan sesaat kemudian terdengar benturan
yang sangat keras membuatku terkejut. “Novan”. Tanpa menunggu lama aku langsung
berlari kearah sumber suara, dan seperti yang kuduga terjadi tabrakan disitu.
Aku
langsung lemas melihat semua ini. antara percaya dan tidak. Air mataku sudah
tertumpah ruah tak bisa kubendung. Motor Novan remuk dan dia terpental sekitar
lima meter dari motornya. Dia tergeletak dipinggir jalan tanpa ada gerakan.
Perlahan aku menghampirinya. “Vaan... Novan....”. aku menggoyang-goyangkan
tubuhnya, kulihat wajahnya sudah penuh darah dan sudah tak ada gerakan lagi
kutempelkan telingaku kedadanya, detak jantungnya sudah tak terdengar, ku
pegang pergelangan tangannya, denyut nadinya juga tak kurasakan lagi. “Novaan,
kamu denger suaraku kan, Vaaaaannnn.... tolong jangan seperti ini, Van bangun”.
Semuanya percuma saja dia sudah tak ada betapapun aku menangis, betapapun aku
berteriak dia tetap bergeming.
Tiba-tiba
aku merasa sangat takut dan berlari seperti orang gila meninggalkan jasad Novan
yang kini dikerumuni banyak orang. aku terduduk dipinggir jalan. Kucari
ponselku dan kutekan nomor Gian. Tubuhku gemetar dan aku hanya bisa menangis
saat kudengar suara Gian. Dia menenangkanku dengan sabar sampai aku bisa
mengucapakan kata dengan terbata-bata. Aku memintanya untuk datang.
Aku
masih duduk dipinggir jalan sambil memegangi kakiku yang sangat dingin, ayah
dan bunda menghampiriku dan mengajakku pulang tapi aku tetap tak mau pindah.
Tak lama kemudian Gian datang dan langsung menghampiriku. Ayah dan bunda
menceritakan tragedi itu, kemudian dia memelukku, menenangkan aku. Aku membalas
memelukknya dengan sangat erat. “Sudah yuk kita pulang dia juga sudah dibawa
pulang”.
Sesampainya
dirumah dia langsung menidurkanku di ranjang kamarku dan menyelimuti tubuhku.
Bercak-bercak darah masih ada ditubuhku tapi siapa yang mau peduli. Gian duduk
disamping ranjangku dan mengusap lembut rambutku sampai aku tenang dan mulai
bercerita. Aku merasa bersalah juga sama dia, dihari-hari menjelang pernikahan kita
aku masih menemui mantanku. Tapi dia ngerti dengan keadaanku dia tak marah.
Esok
harinya kami ikut mengantar Novan pemakamannya. Melihatnya diturunkan ke liang
lahat, aku tak sanggup menahan air mataku. Aku memeluk Gian erat-erat berharap
bisa menghentikan air mata ini, Gian membalas memelukku lembut. Aku masih
berdiri disana bersama Gian saat semua orang telah pergi. Aku duduk didepan
makamnya menyentuh namanya yang terukir dibatu nisan. Gian menyentuh pundakku
“Biarkan dia beristirahat dengan tenang disana”. Aku berdiri dan Gian
menuntunku meninggalkan pemakaman Novan. “Selamat jalan Novan, semoga kan kamu
temukan bidadarimu disana”.
By
:
Akimoto
Sachiko, Malang, 11 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar