Selasa, 12 Agustus 2014

LAST NIGHT


            Semilir dingin angin laut di pantai selatan itu membawa kedamaian bagi dua insan yang sedang bercengkerama di tepiannya. Ya, disinilah kami sekarang menikmati dinginnya udara malam yang menusuk kedalam tulang. Sudah hampir setahun kami tak main kesini dan sudah hampir setahun pula aku dan Alan tidak bertemu. Malam ini adalah malam pertama kali kami bertemu lagi.
            Aku tau dia sudah ada yang punya. Tapi sudah sejak lama aku dan dia bertemu secara rahasia seperti ini. Jujur itu menyakitkan buat aku, meskipun disisi lain aku juga bahagia. Bagaimana tidak? Dia orang yang sangat aku cintai meskipun sekarang ini aku Cuma mantan buat dia. Ya, aku memang mantannya, mantan pertama sekaligus cinta pertamanya, begitu dia dulu bilang padaku. Tapi apa hebatnya jadi pacar pertama ataupun cinta pertama kalo pada akhirnya tak bisa memilikinya dan hanya dikenang . seindah apapun kenangan yang pernah kita liwati bersama itu hanya kan percuma, karna itu Cuma buat dikenang saja tanpa bisa diulang.
            Lelah. Itu yang aku rasakan sekarang. Lelah dengan hubungan tanpa status ini. Malam ini aku ingin mengakhiri semuanya. Tak kan ada lagi pertemuan rahasia seperti ini lagi. Hati kecilku sebagai sesama perempuan merasa kasihan pada pacarnya dia yang sekarang. Dan aku malu pada diriku sendiri. “Airin, Airin. Kayak gak ada laki-laki lain aja”. Begitu kata Rina sahabatku. Dan kuakui dia benar soal itu.
            Aku mengambil nafas dalam-dalam. “Alan, boleh aku bertanya sesuatu?”. Ucapku memecah keheningan yang sudah ratusan bahkan mungkin ribuan detik ada diantara kami. “Tanya apa Rin?”.
            “Aku ini siapa sih buat kamu?”
            Dia menatapku sejenak kemudian tersenyum dan kembali menatap hamparan laut yang luas. “kamu itu pacar pertamaku, kau itu orang yang ngeselin bagi aku, tapi kamu itu juga orang yang spesial buat aku”.
            “pernah gak, kamu tuh bener-bener suka gitu sama aku?”. Tanyaku lagi. Suaraku mulai bergetar. Bukan saja karna menahan dingin tapi juga karena menahan sesuatu yang rasanya hendak meledak dari dalam hatiku. Dia menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan yang penuh tanya. “Tentu sajalah. Kamu kan pacar pertamaku Rin, kamu ini gimana sih? Kamu fikir aku pacaran gak pake hati apa”. Nada bicaranya mulai terlihat kesal.
            Aku tersenyum simpul melihatnya. “terus sekarang kamu pacaran sama Dea juga pake hati?”. Dia semakin memelototiku. “Apa pertanyaanmu itu perlu aku jawab? Dan dengan alasan apa kamu nanyain hal itu?”. Dari nadanya dia tampak mulai marah.
            “hufft...”. aku menghela nafas sedalam-dalamnya. “Enggak, aku Cuma pengen tau aja. Kalo kamu sekarang pacaran sama Dea pake hati juga dan masih bermain-main denganku dibelakang dia seperti ini, tidak menutup kemungkinan juga kan dulu waktu pacaran sama aku kamu bermain-main dibelakangku juga kayak gini.”
            “Sumpah Rin, waktu sama kamu dulu aku gak pernah kayak gini”. Dia terdiam dan mengalihkan pandangannya kembali ke laut. Akku tersenyum melihatnya. Mungkin dia mulai sadar telah terjebak sama kata-katanya sendiri. “Udahlah Rin, kita pulang aja yuk, suasananya udah gak asik gini”. Kemudian dia berdiri.
            “Lan, kalo kamu beneran sayang sama dia, jangan seperti ini lagi ya. Jangan lakukan ini lagi, entah itu denganku atau dengan orang lain. Jangan memeluk orang lain lagi selain dia, jangan membagi cintamu pada orang lain lagi selain dia. Tapi kalo kamu tak benar-benar sayang sama dia, lebih baik kamu akhiri saja. Saat dia benar-benar sayang sama kamu tapi kamu enggak, kamu itu gak pantes dapat cintanya. Yang pantes dapet cinta itu orang yang bisa balas mencintai bukan orang yang menyianyiakan cinta. Selama ini aku jadi pihak ketiga diantara kalian dan aku sadar bahwa aku salah. Tak seharusnya aku ada disini. Aku sangat menyesali ini dan aku ingin meemperbaikinya meski aku tau ini sudah cukup jauh, tapi aku yakin bisa. Jangan pernah datang padaku lagi sebelum kamu yakin siapa yang kamu cintai, dan jangan pula datang pada orang lain jika hanya untuk main-main. Hati wanita itu bukan rumah singgah, tapi rumah yang akan kamu tinggali selamanya”.
            Kutepuk pundaknya sebelum kutinggalkan dia. Aku berjalan perlahan meninggalkannya dalam sunyi. Sementara Alan masih terpaku disana dalam diam. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Yang pasti aku kan terus melangkah kedepan dan tak ingin menoleh kebelakang lagi, tak ingin menoleh padanya lagi. Aku teringat kata-kata seorang sahabatku yang di Malang “udah biarin aja, nek jodoh yo rabi nek gak jodoh yo buwuh karo nyumbang lagu ‘wedi karo bojomu’ ”. Aku tersenyum sendiri mengingat itu.

By:
Akimoto Sachiko, Malang, 12 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar