Semilir
dingin angin laut di pantai selatan itu membawa kedamaian bagi dua insan yang
sedang bercengkerama di tepiannya. Ya, disinilah kami sekarang menikmati
dinginnya udara malam yang menusuk kedalam tulang. Sudah hampir setahun kami
tak main kesini dan sudah hampir setahun pula aku dan Alan tidak bertemu. Malam
ini adalah malam pertama kali kami bertemu lagi.
Aku
tau dia sudah ada yang punya. Tapi sudah sejak lama aku dan dia bertemu secara
rahasia seperti ini. Jujur itu menyakitkan buat aku, meskipun disisi lain aku
juga bahagia. Bagaimana tidak? Dia orang yang sangat aku cintai meskipun
sekarang ini aku Cuma mantan buat dia. Ya, aku memang mantannya, mantan pertama
sekaligus cinta pertamanya, begitu dia dulu bilang padaku. Tapi apa hebatnya
jadi pacar pertama ataupun cinta pertama kalo pada akhirnya tak bisa
memilikinya dan hanya dikenang . seindah apapun kenangan yang pernah kita
liwati bersama itu hanya kan percuma, karna itu Cuma buat dikenang saja tanpa
bisa diulang.
Lelah.
Itu yang aku rasakan sekarang. Lelah dengan hubungan tanpa status ini. Malam
ini aku ingin mengakhiri semuanya. Tak kan ada lagi pertemuan rahasia seperti
ini lagi. Hati kecilku sebagai sesama perempuan merasa kasihan pada pacarnya
dia yang sekarang. Dan aku malu pada diriku sendiri. “Airin, Airin. Kayak gak
ada laki-laki lain aja”. Begitu kata Rina sahabatku. Dan kuakui dia benar soal
itu.
Aku
mengambil nafas dalam-dalam. “Alan, boleh aku bertanya sesuatu?”. Ucapku
memecah keheningan yang sudah ratusan bahkan mungkin ribuan detik ada diantara
kami. “Tanya apa Rin?”.
“Aku
ini siapa sih buat kamu?”
Dia
menatapku sejenak kemudian tersenyum dan kembali menatap hamparan laut yang
luas. “kamu itu pacar pertamaku, kau itu orang yang ngeselin bagi aku, tapi
kamu itu juga orang yang spesial buat aku”.
“pernah
gak, kamu tuh bener-bener suka gitu sama aku?”. Tanyaku lagi. Suaraku mulai
bergetar. Bukan saja karna menahan dingin tapi juga karena menahan sesuatu yang
rasanya hendak meledak dari dalam hatiku. Dia menatapku lagi. Kali ini dengan
tatapan yang penuh tanya. “Tentu sajalah. Kamu kan pacar pertamaku Rin, kamu
ini gimana sih? Kamu fikir aku pacaran gak pake hati apa”. Nada bicaranya mulai
terlihat kesal.
Aku
tersenyum simpul melihatnya. “terus sekarang kamu pacaran sama Dea juga pake
hati?”. Dia semakin memelototiku. “Apa pertanyaanmu itu perlu aku jawab? Dan
dengan alasan apa kamu nanyain hal itu?”. Dari nadanya dia tampak mulai marah.
“hufft...”.
aku menghela nafas sedalam-dalamnya. “Enggak, aku Cuma pengen tau aja. Kalo
kamu sekarang pacaran sama Dea pake hati juga dan masih bermain-main denganku
dibelakang dia seperti ini, tidak menutup kemungkinan juga kan dulu waktu
pacaran sama aku kamu bermain-main dibelakangku juga kayak gini.”
“Sumpah
Rin, waktu sama kamu dulu aku gak pernah kayak gini”. Dia terdiam dan
mengalihkan pandangannya kembali ke laut. Akku tersenyum melihatnya. Mungkin
dia mulai sadar telah terjebak sama kata-katanya sendiri. “Udahlah Rin, kita
pulang aja yuk, suasananya udah gak asik gini”. Kemudian dia berdiri.
“Lan,
kalo kamu beneran sayang sama dia, jangan seperti ini lagi ya. Jangan lakukan
ini lagi, entah itu denganku atau dengan orang lain. Jangan memeluk orang lain
lagi selain dia, jangan membagi cintamu pada orang lain lagi selain dia. Tapi kalo
kamu tak benar-benar sayang sama dia, lebih baik kamu akhiri saja. Saat dia
benar-benar sayang sama kamu tapi kamu enggak, kamu itu gak pantes dapat
cintanya. Yang pantes dapet cinta itu orang yang bisa balas mencintai bukan
orang yang menyianyiakan cinta. Selama ini aku jadi pihak ketiga diantara
kalian dan aku sadar bahwa aku salah. Tak seharusnya aku ada disini. Aku sangat
menyesali ini dan aku ingin meemperbaikinya meski aku tau ini sudah cukup jauh,
tapi aku yakin bisa. Jangan pernah datang padaku lagi sebelum kamu yakin siapa
yang kamu cintai, dan jangan pula datang pada orang lain jika hanya untuk
main-main. Hati wanita itu bukan rumah singgah, tapi rumah yang akan kamu
tinggali selamanya”.
Kutepuk
pundaknya sebelum kutinggalkan dia. Aku berjalan perlahan meninggalkannya dalam
sunyi. Sementara Alan masih terpaku disana dalam diam. Entah apa yang
dipikirkannya sekarang. Yang pasti aku kan terus melangkah kedepan dan tak
ingin menoleh kebelakang lagi, tak ingin menoleh padanya lagi. Aku teringat kata-kata
seorang sahabatku yang di Malang “udah biarin aja, nek jodoh yo rabi nek gak jodoh yo buwuh karo nyumbang lagu ‘wedi karo
bojomu’ ”. Aku tersenyum sendiri mengingat itu.
By:
Akimoto
Sachiko, Malang, 12 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar