Rabu, 10 Desember 2014

ABU-ABU

Aku merasa begitu bodoh. Bodoh karene cinta buta ini. Dia masa laluku yang tak pernah bisa kulupakan dan selalu datang kembali disaat yang tak terduga. Aku benci keadaan ini, tapi aku tak bisa menolaknya. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiripun bingung dengan semua ini.
Dia datang saat aku hampir kewalahan dikeroyok berandalan jalanan. “Hei bung, kalo emang jantan jangan Cuma berani ama cewek dong”. Begitullah ucapnya saat itu, dengan nada santai dan wajah dingin tanpa ekspresi. Dia menolongku dengan suka rela. Gilanya karena gugup dan masih agak trauma aku gak mengucapkan terimakasih padanya. “Kamu gak apa-apakan Chi?”. Tanyanya tampak panik. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Dia juga datang bagai malaikat saat ayah tak bisa dihubungi dan bingung gimana bisa pulang padahal malam hampir menjelang sementara aku belum ada yang jemput. “Sachi, kok disini?”. Tanyanya. Saat itu dia bersama seorang gadis yang belakangan ku ketahui itu adalah kekasihnya. “Iya nih abis dari rumah temen”. Jawabku sambil memandangi gadis itu. Jujur saat itu ada rasa sakit menusuk kerelung hatiku yang paling dalam. Bolehlah itu dikatakan rasa cemburu yang tidak pada tempatnya.
“Terus sekarang mau kemana lagi?”.
“Ya mau pulanglah. Tapi gak tau nih kapan bisa pulang”.
“Lho emang kenapa? Belom bilang ama ayah?”.
“Itu dia masalahnya Lan, dari tadi ayah gak bisa dihubungi”.
“Emmm.... gini aja deh kamu tunggu disini aja bentar, jangan kemana-mana, aku anterin Ana dulu”. Ucapnya sebelum kemudian cabut meninggalkan aku sendiri disana. Namun beberapa menit kemudian dia udah balik lagi. “Yuk... barengan aja dah mau malam”. Katanya tanpa basa-basi. Aku pun tak banyak bicara langsung nurut. “Sayang, Pegangan yang kenceng sama abang ya...”. ucapnya sambil tersenyum.
“Thank’s ya Lan, sorry jadi ngerepotin”. Ucapku sesampainya di depan rumah.
“Sama-sama, cantik”. Balasnya menggoda.
“Ih.... genit banget sih, kasihan tuh pacarmu”.
“Dia kan gak tau, hehehe....”. katanya seenak jidatnya sendiri. “Ya udah deh beb, aku pulang dulu”.
“Iya... hati-hati”.
“Nggak hati-hatipun gak bakal kenapa-kenapa kali, rumah juga gak ada seratus meter dari sini”.
“Haduh... bawel banget sih”.
Sebelum pergi dia memberi satu senyuman untukku. Dan setelah dia pergi, aku jadi senyum-senyum sendiri.
@®@
Mungkin aku terlalu berharap padanya. Terkadang aku harus menyadarkan diriku sendiri. Dia bukan siapa-siapamu lagi Sachi dia Cuma temanmu sekarang, dia tinggal menjadi masa lalumu. Begitulah caraku menyadarkan diriku sendiri.
Banyak teman-temanku yang menyarankan agar aku mencari pengganti dirinya, namun aku tak bisa. Bukan karna apa-apa, hanya saja aku tak ingin menyakiti orang lain demi kesenanganku sendiri. Karna sampai sekarang aku belum bisa mencintai orang lain. Memang sih banyak orang yang datang silih berganti dan orang-orang itu jauh lebih baik segala-galanya dari dia. Tapi mata hatiku sepertinya sudah buta dengan semua itu.
Aku tak bisa berhenti mencintainya barang sejenak. Karena saat aku mencoba membunuh rasaku padanya dia selalu datang dan datang lagi memberi harapan lagi. Dia ada dalam setiap desah nafasku, dia ada dalam detak jantungku, dia ada di bangun dan tidurku, dia ada pada langkah-langkah kakiku, dia tak pernah beranjak dari benakku, dia ada dan selalu ada di hatiku. Hati yang tak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali dia seorang, meski aku tahu dia abu-abu buatku, bahkan hampir hitam.
“Woi, nglamun aja, kesambet setan disiang bolong kan gak lucu”. Suara orang yang sudah sangat kukenal itu membuatku kaget. “Ih... ngagetin aja sih San”. Ucapku berlagak marah.
“Eh... nih ada surat buat kamu?”. Katanya sambil menyerahkan amplop warna biru laut kepadaku.
What? Gak salah denger nih? Surat? Emang masih ada ya orang berkirim surat?”. Tanyaku sambil tertawa.
“Heh, monyong lu, surat itu lebih romantis ya dari pada sms”. Ucapnya ngedumel.
“Emang kamu ama pacarmu masih sering surat-menyurat kayak gini ya?”. Aku masih juga tertawa.
“Brisik lu, udah ah baca aja sendiri ya tuh guruku udah mau masuk. Cabut duluan ya, bye bye Sachi”. Dia tersenyum penuh arti padaku. Kemudian berlalu. Setelah Sandy pergi akupun kembali masuk kelas dan memasukkan surat itu kedalam tas karena Bu Ika, guru kimia kesukaanku sudah masuk kelas.
@®@
Aku kaget bukan kepalang. Pasalnya surat yang kuterima tadi siang itu ternyata dari salah satu teman dalam organisasi yang ku ikuti. Yang lebih membuatku lebih syok lagi, dia bilang dia suka sama aku. What…? Gak salah…? Dia dan aku beda banget, terutama prinsip hidupnya. Dia yang begitu religius, sementara aku yang selengekan kaya gini, itu sudah merupakan perbedaan yang mungkin sangat sulit tuk disatukan. Dan satu lagi, hatiku masih untuk Alan.
Jujur aku lelah terus seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, di luar aku bisa bohong tapi hati itu memang selalu jujur tak bisa bohong. Terkadang aku ingin berlari dari semua kehidupan ini, tapi aku tak punya arah yang pasti, tak punya pelabuhan untuk berhenti.
Aku kembali memasukkan surat itu ke dalam amplopnya dan kemudian ku masukkan dalam laci meja belajarku. Hari ini aku sedang tak ingin terlalu banyak berfikir.
@®@
“Hai”. Sebuah sapaan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kepadanya meski sebenarnya tanpa menoleh juga aku tahu siapa dia.
“ehmm... lagi apa Chi?” pertanyaan yang super-super gak penting.
“lagi duduk” matamu masih normalkan, gak lihat aku lagi ngapain? Gerutuku dalam hati. Dia itu orangnya. Dia Andi, orang yang memberiku surat. Sebenarnya dari segi fisik dia tidak mengecewakan, namun banyak alasan yang membuatku tidak bisa respek sama dia. Yang pertama, jelas dia tidak gentle. Buktinya nembak aku aja lewat surat, kalo dia gentle harusnya dia berani mengungkapkannya langsung didepanku. Yang kedua, dari awal sape akhir, aku gak punya perasaan apapun sama dia. Jadi aku tak mau bermain api, aku gak mau mempermainkan hati anak manusia ini. yang ketiga dan selanjutnya, aku masih ingin sendiri, aku masih mengharap dia kan kembali, entah kenapa hatiku masih yakin dia akan kembali padaku.
“Chi, kamu gak apa-apa?” aku tersentak mendengar suaranya.
“aaa... iya gak apa-apa kok.” Aku pura-pura melihat jam tanganku berusaha mencari alasan untuk kabur. “Ndi, aku ke kelas dulu ya” kataku kemudian melangkah hendak meninggalkan dia.
“Chi” panggilan itu membuatku terpaksa menghentikan niatku untuk segera kabur. Aku menoleh kepadanya, ku tangkap raut wajahnya yang bingung. “g.. gim... gimana suratku udah ka.. kamu baca?” tanyanya menggagap kayak anak-anak kalo lagi berhadapan sama bu Dewi guru paling killer yang namanya sudah santer di seantoro MAN 1 Pacitan ini.
“udah” jawabku singkat.
“t.. te.. te.. terus gimana?”
“apanya yang gimana?”
“ya.. ya.. jawaban ka.. kamu”
Aku tersenyum melihat dia yang begitu gugup, rasaanya lucu aja. Tapi dengn tampang seperti itu keputusanku semakin meningkat mencapai 100% “maaf Ndi, tapi aku gak bisa.” Jawabku tanpa basa basi lagi. Kamu aja jadi gagap gini di depanku bagaimana mungkin kamu bisa mengendalikan aku? Sedangkan aku paling gak suka sama cowok lemah yang hanya mengangguk dengan apapun perintah ceweknya. Dan melihat kamu yang di depan aku sekarang ini, sepertinya kamu akan seperti itu Ndi. Aku butuh cowok yang bisa mengatakan TIDAK saat menurutnya itu tidak baik untukku, untuknya dan untuk kita. Aku butuh orang yang bisa aku ajak diskusi yang punya prinsip sendiri, yang bisa memberi dan meminta, bukan orang yang hanya bisa mengatakan “iya sayang, aku ngikut aja deh apa katamu”.
Kulirik sekilas raut wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar jelas disana. “maaf Ndi” ucapku untuk yang terakhir kemudian ku tinggalkan dia merenung sendirian. “sebenarnya kamu baik Ndi, Cuma aku hampir tak punya alasan untuk menerimamu, kamu pasti mendapatkan orang yang cocok sama kamu Ndi” gumamku lirih.

By : Akimoto Sachiko
Malang, 07 Desember 2014

Kamis, 30 Oktober 2014

Warning...!!!

Sebagai pembaca yang baik, jangan lupa ya like dan tinggalkan komentar setelah selesai membaca... ! :)

By : Penulis Cerpen

Sabtu, 18 Oktober 2014

DIARY USANG

             Pagi yang cerah. Mentari menerobos memasuki rumah mewah itu melalui jendela-jendela kacanya. Penghuni di dalamnya tampak begitu sibuk. Hampir satu bulan telah lewat setelah acara besar-besaran yang digelar dirumah ini. Itulah acara pernikahan anak sulung mereka. Ya, sebulan lalu Reni melepas kesendiriannya menikah dengan seorang pengusaha muda yang bernama Andi. Lelaki yang telah sabar menunggunya selama hampir empat tahun terakhir ini, sabar menghadapi keegoisannya, sabar menghadapi kegilaannya yang kadang di luar kemampuan Andi.
            Besok pengantin baru ini berencana pindah kerumah mereka sendiri. Walhasil hari ini mereka sibuk mempersiapkan semuanya bahkan sebelum matahari pagi menyapa. Kedua orang tua Reni pun ikut bersibuk-sibuk ria membantu persiapan anak dan menantunya itu.
            Reni tengah membereskan perabotan-perabotan dikamarnya, mulai dari baju, alat make up sampai buku-buku dari jaman kebodohan yang masih tetap disimpannya. Sebuah buku mungil yang sudah cukup usang tergeletak manis diantara puluhan bahkan ratusan buku-bukunya mampu menarik perhatiannya. Dia mengambilnya kemudian membuka halaman pertama dibacanya pelan-pelan. Selesai membaca lembar pertama dia membuka lembar-lembar berikutnya. Buku mungil itu bercerit banyak tentang perjalanan hidupnya, tentang kenangan-kenangan bersama seorang yang pernah sangat dicintainya meskipun pada akhirnya tak bisa dia miliki.
            Reni muda yang begitu tertutup dan hanya mampu bercerita dalam lembar-lembar kertas dalam buku mungil bertemankan pena yang terus menggoreskan tintanya dalam halaman putih itu. Sudah cukup lama Reni tak membuka lagi diary usang itu lagi karna kalau dia membukanya dia harus siap disergap kenangan masa lalu dengan cinta pertamanya yang sekarang entah dimana. Deni itu namanya. Dan saat inipun kenangan mereka bersama kembali berlompatan memenuhi ingatannya dan tak bisa dipungkiri setiap kali dia mengingat tentang Deni dia kembali merasakan perasaan itu lagi. Deni yang selalu ada buat Reni, Deni yang ajaib, Deni cinta pertamanya, Deni cinta monyetnya yang masih terus dikenangnya, Deni yang selalu hidup dalam ingatannya, namun juga Deni yang pernah menyiksa batinnya, Deni yang cintanya kalah dengan jarak, Deni yang begini, Deni yang begitu, Deni, Deni dan Deni. Nama itu begitu istimewa dihatinya.
            Rasa itu masih tertinggal dihatinya. Itu kenyataan yang tak terbanntahkan bahkan sampai saat ini. Tapi apa boleh dikata, Deni sekarang berada entah dimana dan Reni sendiri sekarang juga sudah bersuami. Cinta itu terpaksa harus dibunuh dengan paksa atau kalau tidak hanya akan mendatangkan bencana luar biasa yang bahkan hanya membayngkannya saja Reni tak berani.
            Ingatannya melambung jauh menyusuri ruang dan waktu dan berhenti dimasa dimana dia merasa benar-benar hidup, merasa halangan apapun kan diterjangnya, masa dimana dia merasa bisa menaklukkan dunia, masa dimana kebahagiaan terasa hanya miliknya saja. Namun sedetik kemudian ingatannya melaju ke masa dimana hadir sebuah keputusan besar yang membuatnya merasa telah mati.
            Entah dendam apa yang ada diantara kedua orang tua mereka berdua, baik orang tua Reni maupun orang tua Deni sama-sama menentang hubungan diantara keduanya. Berbagai cara mereka lakukan demi memisahkan mereka berdua sampai akhirnya Deni dibawa orang tuanya pergi kenegeri Sakura. Awalnya masih baik-baik saja mereka masih kontak meski hanya lewat E-mail, bahkan Deni sempat menjanjikan dia akan kembali ke Indonesia. Namun itupun tak berlangsung lama. Kecurigaan dan ketidak percayaan hadir diantara mereka dan hubungan merekapun kandas hanya sampai disitu. Tapi perasaan Reni pada Deni tak berubah sama sekali, dia masih berharap suatu saat mereka berjodoh. Jarak memang menjadi hal yang menakutkan untuk sebuah hubungan.
            “Sayang”. Reni terlonjak kaget mendengar sapaan Andi yang tiba-tiba sudah dibelakangnya. Reni cepat-cepat menutup buku mungil itu kemudian mendekapnya erat-erat khawatir suaminya kan mengetahui apa yang coba disembunyikannya. “ada apa sayang?”.
            “E... enggak ada sayang, ini mau ngerapiin buku”. Jawabnya dengan sedikit gugup sambil berusaha tersenyum manis demi menyembunyikan kegugupnnya. Diakuinya, lelaki dihadapannya ini gak kalah dari segi manapun dibandingkan Deni, tapi memang terkadang benar bahwa cinta itu buta.
            Reni menoleh kemudian menatap suaminya. “dia ini yang pantas kucintai dengan sepenuh hati, lelaki ini yang akan menjadi tempatku mengabdi” batinnya. Tanpa mengalihkan pandangannya dia tersenyum sendiri.
            Melihat tingkahnya yang aneh itu, Andi mengangkat sebelah alisnya. “Kamu kenapa sayang? Ada yang aneh ya sama aku?”. Tanyanya tampak bingung. Sedang Reni justru tertawa melihat suaminya kebingungan.
            Merasa ditertawakan Andi menghampiri istrinya dan memegang kedua bahunya kemudian menatap matanya lekat-lekat sampai membuat Reni salah tingkah dan mengalihkan pandangannya serta berhenti tertawa. Sesaat kemudian ciuman Andi mendarat dikeningnya, Reni hanya bisa memejamkan matanya berusaha meresapi ciuman suaminya sambil menguatkan hatinya. “Aku pasti bisa mencintainya lebih dari aku mencintai Deni”. Bisiknya dalam hati.

By : Akimoto Sachiko
Malang, 03 Oktober 2014

Selasa, 12 Agustus 2014

“MIMPI DATANG BENAR”


            Di kota ini, aku mengukir kisah baru, mengenal tman baru, mengunjungi tempat baru, dan membuat sejarah baru dalam hidupku. Awalnya aku sama sekali tidak kerasan tinggal disini, di tempat yang serba baru ini. Rasanya aku ingin melarikan diri dan meninggalkan kuliahku disini. Tapi sekarang aku sungguh mensyukuri keputusanku untuk bertahan disini.
            Disini, di kota Arema ini, aku menemukan keajaiban yang benar-benar diluar dugaanku. Bermula dari kegiatan kampusku yang diadakan setiap hari minggu itu, aku mulai munyukainya. Aku masih tak tau apa yang membuat dia begitu menarik buatku. Dan masih saja tak tau sampai sekarang. Kupikir aku ini gila, dan mungkin memang gila. Aku selalu membantah hadirnya rasa itu dengan memberikan sugesti pada diriku sendiri. “Aku hanya boleh suka sama Raka, Tama itu cuma sahabat dan gk boleh lebih dari itu”. Tapi sungguh sial, semakin aku memberi sugesti, justru membuatku semakin suka sama dia. Aku semakin gila memikirkan itu.
            Sampai suatu hari kutanyakan pada Vita temenku, “Apakah aku gila?”. Dia menanyakan kenapa dan aku mulai menceritakan semuanya, awalnya aku tak sebut merk, tapi dia sudah bisa menebak siapa orang yang aku maksudkan.
            Bagaimana itu bisa terjadi? Aku tau rasa sukaku padanya itu tak kan berbalas dan disisi lain aku adalah pacar dari sahabatnya sendiri yang bahkan mereka berdua sudah seperti kakak adik. Tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku bisa pasang tampang biasa berharap tak seorangpun tau tentang ini terutama dia sendiri dan Raka. Aku tak tahu seperti apa wanita tipenya, tapi aku yakin itu bukan sepertiku. Aku bukan tipe yang bagus buat lelaki. Aku tak cantik, tak pandai, tak juga berkepribadian lembut. Kalaupun ada yang suka sama aku biasanya kubilang dia aneh seperti halnya Raka.
            Tama itu orang kepercayaan Raka buat ngejagain aku selama Raka tak disampingku. Dan dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Kemanapun perginya aku, Raka hanya akan diam dan percaya kalau aku perginya dengan dia. Tapi tak seorangpun menyadari bahwa disitulah celahnya. Aku mulai menyukainya seiring kebersamaan itu. Tiap kemanapun hampir selalu bareng dia, sampai-sampai ada teman kami yang mengatakan “kalian ini pacaran terus”. Kami hanya menanggapinya dengan senyum dia tak pernah mencoba menyangkal begitupun aku. Semua orang tau kalau aku sudah ada yang punya, dan itu sahabatnya sendiri.
            Sering kali kami juga berbagi kisah, tentang masa lalu, tentang keluarga dan tentang apa yang ingin kami capai dalam hidup. Sering juga aku mengeluh tentang Raka padanya. Sampai suatu waktu kami menceritakan masa lalu. Dia menceritakan mantannya, bagaimana dia putus dan bagaimana protectivenya sang mantan itu sewaktu jadi pacarnya. Dia itu sama kayak aku gak suka diatur-atur. Bedanya dia lebih brutal dari aku.
            Tiba-tiba diakhir ceritanya terbesit sebuah tanya dalam benakku. Apakah saat ini ada orang yang dia suka? Apakah ada orang yang sedang diincarnya? Dan akhirnya yang keluar adalah “Trus sekarang adakah orang yang sedang kamu incar”. Dan jawabannya adalah “Untuk saat ini sih gak ada”. Ada rasa senang terbesit dalam hatiku kuberfikiir berarti tak ada orang yang disukainya saat ini. Tapi sekarang kusesali pertanyaan itu. Harusnya yang kutanyakan adalah “Apakah sekarang kamu suka seseorang?” Harusny pertanyaa itu yang kuajukan seandainya saja waktu itu aku sudah tau atau setidaknya aku tau rambu-rambunya.
            Hari-hari terus berganti. Aku semakin mengenalnya dan aku semakin dekat dengannya. Saat ini kami memasuki semester 4 dan dia mungkin tak pernah tau perasaanku padanya. Karna usianya yang lebih muda dariku makanya dia sering kupanggil adik dan itu membuat kami semakin dekat. Aku sudah cukup bahagia dengan itu. Setidaknya aku masih bisa ada disampingnya, bisa berbagi cerita meski hanya sebagai sahabatnya.
            Semester ini aku mulai mengikuti sebuah organisasi extra kampus. Dan inilah awal dari kehancuran hubunganku dengan Raka. Raka semakin protective sama aku, dan aku juga semakin sulit dibilangin. Aku lelah diatur-atur dan Raka juga tau itu. Semua semakin memanas saat aku beberapa kali mengadakan kegiatan diluar tanpa adanya Tama bersamaku, karna memang Tama tak mengikuti organisasi ini. Setiap kegiatan yang kuikuti selalu semakin memicu pertengkaran. Aku selalu mencoba untuk jadi air biar gak semakin memanas, tapi itu gak merubah apapun juga, sampai akhirnya aku rasa hubungan kami sudah tak bisa diselamatkan. Seperti bom waktu aku akhirnya meledak tanpa toleran. Dan itu mengakhiri semuanya, mengakhiri hubunganku dengan Raka yang sudah hampir 1,5 tahun ini. mengakhiri hubungan yang sudah tak sejalan lagi, hubungan yang sudah tak ada kepercayaan lagi. Dan mungkin aku memang pantas mendapatkan ini. tidak seharusnya aku mempertahankan dia sementara ada orang lain yang ada dihatiku, meskipun aku tak tau apakah dia memiliki rasa yang sama atau hanya menganggapku sebagai sahabatnya.
            Beberapa hari kemudian, Raka sudah memajang fotonya berdampingan dengan foto perempuan. Aku tak tau siapa itu. Jujur aku kaget melihat itu. Putusku dengan dia sepertinya sudah diperkirakan. Aku hanya menahan diri dan berucap dalam hati “oh.. jadi begitu ya”.
            Tak lama kemudian Tama mengahampiriku. Dia tak seusil biasanya. Dia bertanya padaku tanpa memandangku “berantem ya?” dan aku menjawab “enggak, aku udah selesai ama dia”. Dia tak bertanya kenapa berakhir atau ada masalah apa kok bisa gitu?. Dia hanya diam dan meminjam laptopku kemudian dia bergurau sedikit dan aku hanya bisa menanggapinya dengan sedikit senyuman.
            Sepulangnya aku dari kampus, dia mengirim sms “hari ini kamu aneh gak seperti Irma yang kukenal”. Kemudian ku jawab “Aneh gimana sih?”
            “Irma yang kukenal itu kalau tertawa lepas, gak seperti tadi”.
            “Emang ketawaku tadi gimana?”
            “Ketawamu aneh”. Setelah itu kami masih terus sms sampai larut malam, sampai aku tertidur. Terpikir dalam benakku ternyata dia perhatian juga sama aku.
            Smsan ku sama dia masih berlanjut. Kupikir dia juga aneh. Dia yang kukenal itu gak betah smsan berlama-lama. Tapi beberapa hari ini entah ada hembusan angin syurga dari mana sampai membuat dia betah smsan lama, bahkan sangat lama untuk ukuran seorang Tama. Untuk memuaskan rasa ingin tau ku ini aku iseng-iseng bertanya sama dia. “Tumben kamu kerasan smsan lama?” Dan kemudian dia menjawabnya “Ini demi kamu, sampai aku gak main game”. Aku hanya tertawa menanggapinya. Jujur ada rasa GR juga sih terselip dihatiku berharap apa yang dikatakannya itu beneran gak Cuma sekedar gurauan. Tapi lagi-lagi aku menyadarkan diriku bahwa dia melakukan ini Cuma buat menghiburku sebagai sahabat yang baru saja putus.
            Suatu malam saat smsan sama dia lagi-lagi aku memanggilnya adik dan saat itu juga dia protes. “Aku gak mau kalo Cuma jadi adik”. Agak kaget juga aku ngedengerinnya. Ada debaran yang kucoba acuhkan. Kemudian aku membalasnya “Terus maunya kamu jadi apa?”. Beberapa saat kemudian dia membalas lagi “Jadi seseorang yang penting dihatimu”. Aku semakin tertegun dengan ini. tapi kemudian aku kembali bisa mengendalikan diriku.
            “Hmm... sahabat penting buat aku, pacar juga penting, keluarga penting juga. Mau jadi yang mana?”. Tak lama kemudian dia membalas. “Pilihan yang kedua boleh juga”. Tanpa sadar aku mulai tersenyum-senyum sendiri membacanya.
            “Pacar?”. Kemudian dia menjawab iya. Kali ini hatiku benar-benar senang sekali tanpa peduli itu benar atau Cuma lelucon. Aku balas lagi bahwa kalau mau jadi pacarku aku punya syarat yaitu harus berani mengungkapkannya di depanku langsung dan dia menjawab “oke, bisa diatur”.
            Saat tersadar dan aku harus kembali pada kebenaran bahwa mungkin ini masih gurauan. Aku berusaha untuk meyakinkan diriku lagi bahwa ini gurauan jadi aku tak boleh berharap lebih dari ini. tapi aku perlu konfirmasi sesuatu. Aku mengiriminya sms lagi. “Makasih ya, dengan gurauan-gurauanmu itu bikin aku ketawa lagi dan bikin aku terhibur banget. Mungkin kalo gak ada kamu aku hanya akan terdiam dan terpuruk”.
            Kutunggu balasannya aku berharap suatu keajaiban meskipun kemungkinannya 0,01% tapi gak ada salahnya juga berharap. Beberapa saat kemudian balasan darinya masuk. Balasan yang merupakan keajaiban besar buat aku. “Gimana kalau itu bukan Cuma gurauan?”. Aku semakin terdiam membaca ini. dia bener-bener tau gimana caranya membuatku melambung tinggi. Aku masih ingin memastikan. “Maksudmu?”. Jantungku semakin cepat detaknya sampai-sampai terasa susah bernafas.
            “Ya kalau semua benar bukan Cuma gurauan”. Itu jawabannya. Aku masih gak percaya itu, berkali-kali kutanyakan lagi apakah itu beneran. Dia bilang bahwa sudah lama dia suka sama aku hanya saja dia kalah start sama Raka. Aku bener-bener gak tau harus ngomong apa saking bahagianya. Aku mencubit lenganku benarkah ini nyata bukan mimpi seperti yang dulu-dulu?. Dan ternyata terasa sakit, itu artinya aku tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan. Cintaku untuknya terbalas bahkan sebelum aku mulai. Mimpi-mimpi yang selama ini hadir ditidurku, sekarang jadi kenyataan. “Mimpi Datang Benar” itu yang dia katakan padaku. J
By:
Akimoto Sachiko, Malang, 10 Agustus 2014

TERNYATA


Mentari telah kembali menampakkan wajahnya di langit. Menandakan malam telah pergi dan tentu saja digantikan pagi hari yang cerah, yang memaksa seluruh penghuni bumi untuk segera meninggalkan peraduannya dan kembali memulai aktifitas masing-masing demi untuk melanjutkan hidup.
“Tok, tok, tok…Mel, bangun Mel, sudah siang, cepat mandi ntar telat sekolahnya.” Seorang Ibu setengah baya, mengetuk pintu serta berteriak-teriak galak mengetahui anak gadisnya yang malas itu belum juga beranjak dari tempat tidurnya.
“Huah…… Aduh, baru juga tidur udah pagi lagi, cepet banget sih bumi ini berputar”. Gerutunya sambil menguap di dalam kamarnya. Tanpa menunggu teriakan ibunya untuk yang kedua kalinya, dia memutuskan untuk segera bangun. Lalu mengambil peralatan mandi dan membuka pintu kamarnya. Matanya masih belum terbuka seluruhnya.
Sebelum masuk kamar mandi, dia menyempatkan diri melirik meja makan. Terlihat olehnya sepiring tahu goreng dan sambal terasi. Matanya langsung bening dan tanpa basa-basi dia menghampiri meja makan dan mengambil dua potong tahu sekaligus serta melumurinya dengan sambal terasi. “Yummy…… Mantap……” Gumamnya.
“Melza….” Ibunya berteriak sekecang-kencangnya. “Berapa kali ibu ingatkan kamu? Jangan suka memelihara kebiasaan buruk seperti itu. Matahari sudah terbit baru bangun, wajah masih kusut belum tersentuh air malah sudah menghampiri meja makan, budaya mana yang kamu tiru itu? Kita ini orang Timur mbok ya sopan santunnya itu dijaga. Apalagi kamu itu anak perempuan___”
“Lantas kenapa bu kalo Melza perempuan?” Melza memotong ucapan Ibunya. “Emang salah Melza kalo Malza perempuan? Melza kan nggak minta dilahirkan perempuan.” Ucap Melza seenak jidatnya sendiri. “Dan lagian, kata guru agama Melza nih, semua manusia itu sama, mau orang Barat, Timur, Selatan, Utara, mau Laki-laki ataupun perempuan sama. Bukankah demikian Ibunda?”
Ibunya mulai geregetan mendengar ucapan putri semata wayangnya. Belum sempat Melza menghindar, telinganya sudah menjadi sasaran empuk sang ibunda. “Susah sekali kamu ini dinasehati orang tua. Bukannya mendengarkan malah balik ceramah”.
“Adududuh……….Ibu sakit tau, Melza udah gedhe bu, masa masih dijewer aja sih.” Gerutu Melza.
“Makanya jangan bantah terus kalau ada orang lagi bicara.”
“Ye ibu, jadi orang tua itu yang terbuka dong, masa anaknya berargumen malah dimarah-marahin terus.”
“Sudah jangan mendebat ibu terus, sebaiknya kamu mandi sana, lama-lama ibu bisa darah tinngi ngadepin kamu”
“Lagian siapa suruh tiap hari ceramah terus. Perasaan dulu waktu kak Dean masih di rumah juga kayak gini tapi ibu gak marah-marahin dia terus.” Melza memprotes.
“Anak perempuan itu memang harus selalu dinasehati supaya tidak ngelantur sekehendak hatinya sendiri. Perempuan itu banyak adatnya, jadi, ibu harus mengajarkan itu sama___”
“au ah gelap”. Sahutnya. Kemudian beranjak kekamar mandi sebelum ibunya mencak-mencak lagi.


Mel...Melza, my sweet darling, wait me please....". Baru juga sampai di sekolah “Maniak”  alias Doni, cowok yang tergila-gila sama Melza berteriak-teriak memanggil Melza sambil berlari-lari mengejarnya, mirip kayak di film-film India. Mendengar teriakan itu Melza langsung ambil langkah seribu lari mencari tempat persembunyian yang aman. Dia berlari dan menyusup diantara teman-temannya dan kemudian setelah lolos dari pandangan mata si Maniak, dia menyelinap masuk ke kelasnya. “Gila, kalo tiap hari maraton kayak gini bisa-bisa tubuh gue tinggal tulang-belulang nih.”. gerutu Melza sesampainya di kelas.
“Kenapa sih loe? Dateng-dateng ngomel-ngomel”. Tanya Asti, sahabat sekaligus teman sebangkunya.
“Biasa tuh makhluk luar angkasa nyebelin gila....”. sahutnya sewot.
“Hahahahaaaa.... ladenin aja Mel, toh dia gak jelek-jelek amat. Malah menurut gue dia tuh imut lho.”
“Ogah loe aja sana ladenin tuh makhluk gila.” Melza tambah sebel mendengar komentar sohibnya yang ngaco banget itu.
“Hehehe.... just kidding non jangan ngamuk dong.” Asti masih juga cengengesan. Belum sempat Melza menimpali ocehan Asti, pak Ardan masuk ke kelas, senyum yang memang slalu tersungging di bibir pak Ardan itu mengembang. Senyum itu selalu menyejukkan begitulah gumam Melza dalam hati. “Selamat pagi semua”. Sapa pak Ardan ramah
“Pagi pak”. Jawab anak-anak serempak
“Siap untuk belajar”
“Siap pak”
Melza tak pernah bisa konsentrasi saat diajar pak Ardan. Pikirannya melambung entah kemana. Dasar anak remaja. Dia sangat menyukai pak Ardan lebih dari sekedar ngefans. Dia tahu dan sadar sepenuhnya bahwa perasaan itu tak sepantasnya ada. Tapi begitulah perasaan, tak pernah bisa dicegah ataupun dipaksakan. Meski begitu, Melza adalah gadis yang sangat pandai menyembunyikan perasaan. Betapapun sukanya pada guru muda yang gagah dan kebetulan masih single itu, tak sekalipun dia mencoba mencari-cari perhatian layaknya gadis belia lain. Dia merasa malu untuk bertindak seperti itu. Tapi bukan berarti dia seorang pemalu, dia hanya malu jika perasaannya diketahui oleh temannya dan yang lebih parah lagi diketahui oleh guru muda yang rupawan itu.


Sudah tiga hari pak Ardan tak menampakkan dirinya di sekolah. Menurut kabar yang beredar, pak Ardan tak lagi mengajar disini. Beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliyah pasca sarjananya ke Australia. Ketiadaannya membuat semua siswa pada gelisah dan merasa kehilangan terutama siswa perempuan. Apalagi Melza, sudah tak perlu ditanya lagi. Sejak mendengar kabar itu, Melza merasa sudah tak punya semangat lagi pergi ke sekolah. Meski perasaannya gundah gulana, namun di depan teman-temannya dia berlagak gak peduli. Dia bersikap seeolah-olah tak ada apa-apa. Melza yang terbuka tentang berbagai hal namun begitu tertutup dalam masalah hati dan perasaan.
“Woi ngelamunin apaan sih?”.
“Asti, please deh gak usah ngagetin juga kali. Untung jantung gue masih bercokol kokoh ditempatnya”. Melza menggerutu panjang pendek.
“Abis aja. Ke kelas yuk, ada pak Ardan tuh”. Hati Melza seakan melonjak kegirangan. Tapi dia tetap bisa mengendalikan diri untuk tidak bersiakap heboh.
“Terus kenapa kalo ada pak Ardan? Kiamat..? gak kan....”. sahutnya santai. Tubuhnya bisa ia kontrol, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Bahkan jantungnya serasa berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya bak orang habis lari maraton.
“Ih kok gitu sih... mata loe tuh rabun ya? Ada makhluk seindah itu elo tetap bergeming. Mau loe tuh yang kayak apa sih? Heran gue”.
Melza tak menjawab. Dalam hati dia berkata sebenernyaa ya makhluk indah itu yang gue mau As, hanya saja aku gak pengen siapapun tahu tentang ini. Karena aku yakin perasaan ku ini hanyalah bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba Melza berdiri. “Wait... elo mau kemana buk?”. Tanya Asti.
“Gimana sih loe? Ya ke kelaslah. Katanya tadi ada pak Ardan.” Sahut Melza sambil mulai berjalan menuju ke kelasnya dan diikuti oleh Asti.
“Loe tuh yang gimana? Tadi di bilangin sok cuek, eh peduli juga loe”.
Serasa hampir pingsan Melza melihat pak Ardan. Pak Ardan tampak gagah dengan baju kerah motif garis warna biru menambah pesonanya. Melihat Melza dan Asti masuk kelas pak Ardan tersenyum. Senyum yang sangat manis dan menyejukkan hati. Melza terpaku, bahkan untuk membalas senyum pak Ardan saja dia tidak mampu. “Melza..... kenapa kamu bengong saja? Tidak mau mengucapkan selamat jalan buat bapak?”. Melza langsung
melonjak kaget sekaget-kagetnya melihat pak Ardan sudah berada di depannya dan barusan menyapanya.
“Oh.... eh..... I....Iya pak”. Melza bingung mau bilang apa dia terlalu gugup untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Untuk menghilangkan groginya dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengar-cengir nggak jelas. “Bapak jadi berangakat besok ya ke Australia?”. Tanyanya begok.
“Ya begitulah. Seperti yang sudah direncanakan”. Sahut pak Ardan santai.


Pagi ini agak suram, sesuram hati Melza. Hari ini guru idola yang juga sebagai wali kelasnya dan yang paling penting beliau adalah orang yang mengisi hatinya selama ini, akan meninggalkan tanah air tercinta ini menuju ke negeri Kanguru. Seharusnya pagi ini dia berada di bandara bersama teman-teman satu kelasnya untuk melepas keberangkatan pak Ardan. Namun dia tak mau pergi karena dia yakin dia tak akan sanggup melepas keberangkatan pak Ardan. Makanya dia memutuskan untuk tiadak pergi. Dia membiarkan waktu terus berjalan dan membiarkan dirinya larut dalam angannya, larut dalam lamunannya. Hingga siang menjelang, Melza tak juga beranjak dari kamarnya.
“Mel, buka pintu dong..... molor aja sih loe”. Suara lantang Asti serasa mengguncangkan seisi rumah, bahkan mungkin para semut-semut di rumah Melza udah pada terserang penyakit jantung semua. Melza terlonjak dari tempatnya berada saking kagetnya. Dia berjalan dengan lunglai dan membuka pintu kamarnya dengan malas.
“Monyet loe. Ini rumah orang monyong, bukan hutan. Bisa gak sih pelan dikit volume suaranya. Heran deh perasaan rumah juga jauh dari air terjun”. Melza ngomel-ngomel. Sementara tersangkanya hanya senyum-senyum tanpa rasa bersalah.
“Udah deh gak usah protes. Loe tuh harusnya bersyukur bisa menikmati merdunya suara gue secara gratis. Hehehe...”. seloroh Asti menanggapi ocehan sahabatnya.
“Haduh makasih deh, mending gue ngedengerin suara anjing tetangga gue dari pada ngedengerin suara ancur loe itu”. Sahut Melza.
“Eh nih ada titipan dari pak Ardan. Napa sih loe tadi gak ke sana?”. Tanya Asti sambil menyerahkan kotak kecil.
“Apaan nih?”.
“mana gue tahu. Tadi pak Ardan bilang kemarin loe nitip ini sama beliau”. Melza mengerutkan dahi mencoba menerka-nerka apa isi kotak mungil itu. Dia tak pernah merasa titip apa-apa pada pak Ardan. Biarlah, ntar aja gue buka kalo Asti udah pulang. Batin Melza.
“Oh... gue mau turun dulu As, mau makan. Udah makan lom loe?”. Melza meletakkan kotak itu di meja, kemudian beranjak meninggalkan kamarnya dan pergi keruang makan. Sebenarnya Melza sangat penasaran apa isi kotak itu. Tapi dia ingin membukanya sendiri.
Di ruang tengah dilihat ibunya tengah menikmati siaran berita disalah satu stasiun televisi. “Ada berita apaan sih tante?”. Tanya Asti pada ibunya Melza yang sudah sangat dikenal oleh Asti.
“Ini lho As, ada pesawat jatuh”. Jawab sang ibu.
“Pesawat jurusan mana tante?”. Mentang-mentang dia ketua jurnalistik disekolahnya Asti jadi berlagak kayak wartawan yang selalu ingin tahu.
“Jurusan Australi, yang berangkat sekitar jam sepuluh tadi”. Teeang beliau.
“Jurusan mana bu? Australia? Ibu yakin?”. Kini Melza yang gantian memberondong ibunya dengan pertanyaan. Nasi yang sudah ada di piringnya ia letakkan kembali dan lari menghampiri ibunya. Perasaan takut dan khawatir tingkat tinggi merasuk dalam dirinya.
“Sini ja kalo gak percaya”. Ucap ibunya kesal.
“Waduh itu.... itu...itukan pesawat yang ditumpangi pak Ardan tadi Mel”. Ucap Asti terbata-bata saking paniknya.
You are not alone.... I am here with you. Lagu milik si raja pop itu mendayu-dayu dari ponsel Asti. “Hallo Des”. Sapa Asti. “Hah serius loe. Loe sekarang dimana?. Oke oke ntar gue ama Melza nyusul kesana. Oke bye”. Asti menutup telephonenya. “Beneran ya As, itu tadi pesawatnya pak Ardan?”. Tanya Melza setengah gak sadar. Asti tak sanggup menjawab
hanya airmatanya yang menjelaskan semua.


Seminggu telah setelah kembalinya pak Ardan pada sang pemilik dunia dan isinya. Namun mendung tak juga bisa lenyap dari wajah anak-anak didiknya. Mereka masih tak percaya bahwa guru yang mereka idolakan itu begitu cepat meninggalkan dunia ini dan tak akan pernah kembali lagi untuk alasan apapun. Serasa baru kemarin mereka melihat pak Ardan berpamitan pada mereka semua.
Melza masih menimang-nimang kotak pemberian pak Ardan yang belum juga dibukanya. Dia mulai merobek kertas kado warna merah yang membungkus kotak itu dengan hati yang berdebar. Di dalam kotak itu terdapat kotak kecil dan beberapa lembar kertas. Dibukanya kotak itu, dia kaget tak kepalang. Dari dalam kotak itu mengalun musik halus nan indah. Sekian lama ia menginginkan kotak music seperti itu, namun tak pernah disangka pak Ardanlah orang yang mengabulkan keinginannya itu.
Melza mengambil lembar-lembar kertasnya dan mulai membacanya satu persatu.
Dia gadis yang berbeda
Dia gadis yang paling berkilau diantara ribuan kilau
Dia bidadari yang slalu hadir di setiap mimpiku
Yang slalu muncul dalam anganku
Tapi sebuah perbedaan membuatku sadar
Sepertinya aku tak pantas untuknya
Melza Anastasia
Melza tertegun membaca tulisan itu. Dia tak percaya kalo itu benar-benar dari pak Ardan. Tapi tulisan itu benar-benar style tulisan pak Ardan. Dia lalu mengambil lembar berikutnya dan mulai membacanya.
Pagi ini mawarku merekah
Merekah begitu indah
Seindah senyum sang bidadari hatiku
Lembar berikutnya
Tiap kuliahat matanya yang redup
Serasa menyelami sammudera
Satu harapan terlintas dibenakku
Aku ingin memilikinya
Namun perbedaan ini membuatku ragu
Akankah dia mau menemani sisa hidupku?
Lembar berikutnya merupakan lembar-lembar yang membuat Melza tak sanggup menahan air mata yang meronta hendak keluar dari kelopaknya.
Aku takut....
Takut kehilangan....
Takut saat aku kembali,
Aku sudah tak lagi punya kesempatan
Untuk mengungkapkan semua ini padanya
Aku takut tak bisa melihat wajah bidadari itu
Ini merupakan lembar terakhir.
Melza....
Aku akan pergi membawa rasa ini. Aku ingin kau selalu mengenangku.
Jujur aku ingin selalu bersamamu, melihat senyum manismu. Tapi
untuk saat ini itu tak mungkin.
Melza....
Ingatlah aku selalu. Hatiku kan selalu bersamamu, meski ragaku tak
ada. Anggap saja kotak music ini menemanimu menggantikanku
selama aku pergi. Jika nanti aku tak kembali atau aku tak bisa
memilikimu di dunia aku harap kau sudi menjadi bidadariku di syurga
nanti.
Melza....
Satu hal yang harus kamu tahu. Aku mencintaimu, sangat
mencintaimu. Aku tahu mungkin kamu akan menganggapku tak
tahu diri gadis yang usianya selisih terlampau jauh. Meski aku berharap
perasaanku ini tak bertepuk sebelah tangan, tapi aku tak akan
memaksamu untuk membalas perasaanku ini.
By:
Ardan Jordan
Kini Melza benar-benar sudah tak sanggup berkat-kata. Air matanya kian deras mengalir membasahi pipinya membuat anak-anak sungai kecil. Dia bahagia, kecewa, menyesal, dan juga terluka. Kenapa baru sekarang semua itu terungkap? Saat lelaki yang sangat dicintainya itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun hatinya sempat berbunga-bunga juga. Dia tak menyangka cintanya tersambut, meski dia tahu tak mungkin memiliki.
Ternyata pak Ardan membalas cintanya, ternyata pak Ardan menyukainya, ternyata pak Ardan tak bisa bersanding dengannya, ternyata hidup ini penuh liku-liku, ternyata dunia ini penuh tanda tanya, ternyata dunia ini hanyalah panggung sandiwara, ternyata hidup ini rumit. Ternyata, ternyata, dan ternyata. Ternyata hidup ini penuh kejutan.

By:
Akimoto Sachiko (In Pacitan, On Saturday, March 24, 2012)