Aku
merasa begitu bodoh. Bodoh karene cinta buta ini. Dia masa laluku
yang tak pernah bisa kulupakan dan selalu datang kembali disaat yang
tak terduga. Aku benci keadaan ini, tapi aku tak bisa menolaknya.
Jangan tanya kenapa, karena aku sendiripun bingung dengan semua ini.
Dia
datang saat aku hampir kewalahan dikeroyok berandalan jalanan. “Hei
bung, kalo emang jantan jangan Cuma berani ama cewek dong”.
Begitullah ucapnya saat itu, dengan nada santai dan wajah dingin
tanpa ekspresi. Dia menolongku dengan suka rela. Gilanya karena gugup
dan masih agak trauma aku gak mengucapkan terimakasih padanya. “Kamu
gak apa-apakan Chi?”. Tanyanya tampak panik. Aku hanya bisa
menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Dia
juga datang bagai malaikat saat ayah tak bisa dihubungi dan bingung
gimana bisa pulang padahal malam hampir menjelang sementara aku belum
ada yang jemput. “Sachi, kok disini?”. Tanyanya. Saat itu dia
bersama seorang gadis yang belakangan ku ketahui itu adalah
kekasihnya. “Iya nih abis dari rumah temen”. Jawabku sambil
memandangi gadis itu. Jujur saat itu ada rasa sakit menusuk kerelung
hatiku yang paling dalam. Bolehlah itu dikatakan rasa cemburu yang
tidak pada tempatnya.
“Terus
sekarang mau kemana lagi?”.
“Ya
mau pulanglah. Tapi gak tau nih kapan bisa pulang”.
“Lho
emang kenapa? Belom bilang ama ayah?”.
“Itu
dia masalahnya Lan, dari tadi ayah gak bisa dihubungi”.
“Emmm....
gini aja deh kamu tunggu disini aja bentar, jangan kemana-mana, aku
anterin Ana dulu”. Ucapnya sebelum kemudian cabut meninggalkan aku
sendiri disana. Namun beberapa menit kemudian dia udah balik lagi.
“Yuk... barengan aja dah mau malam”. Katanya tanpa basa-basi. Aku
pun tak banyak bicara langsung nurut. “Sayang, Pegangan yang
kenceng sama abang ya...”. ucapnya sambil tersenyum.
“Thank’s
ya Lan, sorry jadi ngerepotin”. Ucapku
sesampainya di depan rumah.
“Sama-sama,
cantik”. Balasnya menggoda.
“Ih....
genit banget sih, kasihan tuh pacarmu”.
“Dia
kan gak tau, hehehe....”. katanya seenak jidatnya sendiri. “Ya
udah deh beb, aku pulang dulu”.
“Iya...
hati-hati”.
“Nggak
hati-hatipun gak bakal kenapa-kenapa kali, rumah juga gak ada seratus
meter dari sini”.
“Haduh...
bawel banget sih”.
Sebelum
pergi dia memberi satu senyuman untukku. Dan setelah dia pergi, aku
jadi senyum-senyum sendiri.
@®@
Mungkin
aku terlalu berharap padanya. Terkadang aku harus menyadarkan diriku
sendiri. Dia
bukan siapa-siapamu lagi Sachi dia Cuma temanmu sekarang, dia tinggal
menjadi masa lalumu. Begitulah
caraku menyadarkan diriku sendiri.
Banyak
teman-temanku yang menyarankan agar aku mencari pengganti dirinya,
namun aku tak bisa. Bukan karna apa-apa, hanya saja aku tak ingin
menyakiti orang lain demi kesenanganku sendiri. Karna sampai sekarang
aku belum bisa mencintai orang lain. Memang sih banyak orang yang
datang silih berganti dan orang-orang itu jauh lebih baik
segala-galanya dari dia. Tapi mata hatiku sepertinya sudah buta
dengan semua itu.
Aku
tak bisa berhenti mencintainya barang sejenak. Karena saat aku
mencoba membunuh rasaku padanya dia selalu datang dan datang lagi
memberi harapan lagi. Dia ada dalam setiap desah nafasku, dia ada
dalam detak jantungku, dia ada di bangun dan tidurku, dia ada pada
langkah-langkah kakiku, dia tak pernah beranjak dari benakku, dia ada
dan selalu ada di hatiku. Hati yang tak pernah tersentuh oleh
siapapun kecuali dia seorang, meski aku tahu dia abu-abu buatku,
bahkan hampir hitam.
“Woi,
nglamun aja, kesambet setan disiang bolong kan gak lucu”. Suara
orang yang sudah sangat kukenal itu membuatku kaget. “Ih...
ngagetin aja sih San”. Ucapku berlagak marah.
“Eh...
nih ada surat buat kamu?”. Katanya sambil menyerahkan amplop warna
biru laut kepadaku.
“What?
Gak
salah denger nih? Surat? Emang masih ada ya orang berkirim surat?”.
Tanyaku sambil tertawa.
“Heh,
monyong lu, surat itu lebih romantis ya dari pada sms”. Ucapnya
ngedumel.
“Emang
kamu ama pacarmu
masih sering surat-menyurat kayak gini ya?”. Aku masih juga
tertawa.
“Brisik
lu, udah ah baca aja sendiri ya tuh guruku udah mau masuk. Cabut
duluan ya, bye bye Sachi”. Dia tersenyum penuh arti padaku.
Kemudian berlalu. Setelah Sandy pergi akupun kembali masuk kelas dan
memasukkan surat itu kedalam tas karena Bu Ika, guru kimia kesukaanku
sudah masuk kelas.
@®@
Aku
kaget bukan kepalang. Pasalnya surat yang kuterima tadi siang itu
ternyata dari salah satu teman dalam organisasi yang ku ikuti. Yang
lebih membuatku lebih syok lagi, dia bilang dia suka sama aku. What…?
Gak salah…? Dia dan aku beda banget, terutama prinsip hidupnya. Dia
yang begitu religius, sementara aku yang selengekan kaya gini, itu
sudah merupakan perbedaan yang mungkin sangat sulit tuk disatukan.
Dan satu lagi, hatiku masih untuk
Alan.
Jujur
aku lelah terus seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, di luar aku
bisa bohong tapi hati itu memang selalu jujur tak bisa bohong.
Terkadang aku ingin berlari dari semua kehidupan ini, tapi aku tak
punya arah yang pasti, tak punya pelabuhan untuk berhenti.
Aku
kembali memasukkan surat itu ke dalam amplopnya dan kemudian ku
masukkan dalam laci meja belajarku. Hari ini aku sedang tak ingin
terlalu banyak berfikir.
@®@
“Hai”.
Sebuah sapaan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kepadanya meski
sebenarnya tanpa menoleh juga aku tahu siapa dia.
“ehmm...
lagi apa Chi?” pertanyaan yang super-super gak penting.
“lagi
duduk” matamu
masih normalkan, gak lihat aku lagi ngapain?
Gerutuku dalam hati. Dia itu orangnya. Dia Andi, orang yang memberiku
surat. Sebenarnya dari segi fisik dia tidak mengecewakan, namun
banyak alasan yang membuatku tidak bisa respek sama dia. Yang
pertama, jelas dia tidak gentle. Buktinya nembak aku aja lewat surat,
kalo dia gentle harusnya dia berani mengungkapkannya langsung
didepanku. Yang kedua, dari awal sape akhir, aku gak punya perasaan
apapun sama dia. Jadi aku tak mau bermain api, aku gak mau
mempermainkan hati anak manusia ini. yang ketiga dan selanjutnya, aku
masih ingin sendiri, aku masih mengharap dia kan kembali, entah
kenapa hatiku masih yakin dia akan kembali padaku.
“Chi,
kamu gak apa-apa?” aku tersentak mendengar suaranya.
“aaa...
iya gak apa-apa kok.” Aku pura-pura melihat jam tanganku berusaha
mencari alasan untuk kabur. “Ndi, aku ke kelas dulu ya” kataku
kemudian melangkah hendak meninggalkan dia.
“Chi”
panggilan itu membuatku terpaksa menghentikan niatku untuk segera
kabur. Aku menoleh kepadanya, ku tangkap raut wajahnya yang bingung.
“g.. gim... gimana suratku udah ka.. kamu baca?” tanyanya
menggagap kayak anak-anak kalo lagi berhadapan sama bu Dewi guru
paling killer yang namanya sudah santer di seantoro MAN 1 Pacitan
ini.
“udah”
jawabku singkat.
“t..
te.. te.. terus gimana?”
“apanya
yang gimana?”
“ya..
ya.. jawaban ka.. kamu”
Aku
tersenyum melihat dia yang begitu gugup, rasaanya lucu aja. Tapi
dengn tampang seperti itu keputusanku semakin meningkat mencapai 100%
“maaf Ndi, tapi aku gak bisa.” Jawabku tanpa basa basi lagi. Kamu
aja jadi gagap gini di depanku bagaimana mungkin kamu bisa
mengendalikan aku? Sedangkan aku paling gak suka sama cowok lemah
yang hanya mengangguk dengan apapun perintah ceweknya. Dan melihat
kamu yang di depan aku sekarang ini, sepertinya kamu akan seperti itu
Ndi. Aku butuh cowok yang bisa mengatakan TIDAK saat menurutnya itu
tidak baik untukku, untuknya dan untuk kita. Aku butuh orang yang
bisa aku ajak diskusi yang punya prinsip sendiri, yang bisa memberi
dan meminta, bukan orang yang hanya bisa mengatakan “iya sayang,
aku ngikut aja deh apa katamu”.
Kulirik
sekilas raut wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar jelas disana. “maaf
Ndi” ucapku untuk yang terakhir kemudian ku tinggalkan dia merenung
sendirian. “sebenarnya kamu baik Ndi, Cuma aku hampir tak punya
alasan untuk menerimamu, kamu pasti mendapatkan orang yang cocok sama
kamu Ndi” gumamku lirih.
By : Akimoto Sachiko
Malang, 07 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar