Rabu, 10 Desember 2014

ABU-ABU

Aku merasa begitu bodoh. Bodoh karene cinta buta ini. Dia masa laluku yang tak pernah bisa kulupakan dan selalu datang kembali disaat yang tak terduga. Aku benci keadaan ini, tapi aku tak bisa menolaknya. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiripun bingung dengan semua ini.
Dia datang saat aku hampir kewalahan dikeroyok berandalan jalanan. “Hei bung, kalo emang jantan jangan Cuma berani ama cewek dong”. Begitullah ucapnya saat itu, dengan nada santai dan wajah dingin tanpa ekspresi. Dia menolongku dengan suka rela. Gilanya karena gugup dan masih agak trauma aku gak mengucapkan terimakasih padanya. “Kamu gak apa-apakan Chi?”. Tanyanya tampak panik. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Dia juga datang bagai malaikat saat ayah tak bisa dihubungi dan bingung gimana bisa pulang padahal malam hampir menjelang sementara aku belum ada yang jemput. “Sachi, kok disini?”. Tanyanya. Saat itu dia bersama seorang gadis yang belakangan ku ketahui itu adalah kekasihnya. “Iya nih abis dari rumah temen”. Jawabku sambil memandangi gadis itu. Jujur saat itu ada rasa sakit menusuk kerelung hatiku yang paling dalam. Bolehlah itu dikatakan rasa cemburu yang tidak pada tempatnya.
“Terus sekarang mau kemana lagi?”.
“Ya mau pulanglah. Tapi gak tau nih kapan bisa pulang”.
“Lho emang kenapa? Belom bilang ama ayah?”.
“Itu dia masalahnya Lan, dari tadi ayah gak bisa dihubungi”.
“Emmm.... gini aja deh kamu tunggu disini aja bentar, jangan kemana-mana, aku anterin Ana dulu”. Ucapnya sebelum kemudian cabut meninggalkan aku sendiri disana. Namun beberapa menit kemudian dia udah balik lagi. “Yuk... barengan aja dah mau malam”. Katanya tanpa basa-basi. Aku pun tak banyak bicara langsung nurut. “Sayang, Pegangan yang kenceng sama abang ya...”. ucapnya sambil tersenyum.
“Thank’s ya Lan, sorry jadi ngerepotin”. Ucapku sesampainya di depan rumah.
“Sama-sama, cantik”. Balasnya menggoda.
“Ih.... genit banget sih, kasihan tuh pacarmu”.
“Dia kan gak tau, hehehe....”. katanya seenak jidatnya sendiri. “Ya udah deh beb, aku pulang dulu”.
“Iya... hati-hati”.
“Nggak hati-hatipun gak bakal kenapa-kenapa kali, rumah juga gak ada seratus meter dari sini”.
“Haduh... bawel banget sih”.
Sebelum pergi dia memberi satu senyuman untukku. Dan setelah dia pergi, aku jadi senyum-senyum sendiri.
@®@
Mungkin aku terlalu berharap padanya. Terkadang aku harus menyadarkan diriku sendiri. Dia bukan siapa-siapamu lagi Sachi dia Cuma temanmu sekarang, dia tinggal menjadi masa lalumu. Begitulah caraku menyadarkan diriku sendiri.
Banyak teman-temanku yang menyarankan agar aku mencari pengganti dirinya, namun aku tak bisa. Bukan karna apa-apa, hanya saja aku tak ingin menyakiti orang lain demi kesenanganku sendiri. Karna sampai sekarang aku belum bisa mencintai orang lain. Memang sih banyak orang yang datang silih berganti dan orang-orang itu jauh lebih baik segala-galanya dari dia. Tapi mata hatiku sepertinya sudah buta dengan semua itu.
Aku tak bisa berhenti mencintainya barang sejenak. Karena saat aku mencoba membunuh rasaku padanya dia selalu datang dan datang lagi memberi harapan lagi. Dia ada dalam setiap desah nafasku, dia ada dalam detak jantungku, dia ada di bangun dan tidurku, dia ada pada langkah-langkah kakiku, dia tak pernah beranjak dari benakku, dia ada dan selalu ada di hatiku. Hati yang tak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali dia seorang, meski aku tahu dia abu-abu buatku, bahkan hampir hitam.
“Woi, nglamun aja, kesambet setan disiang bolong kan gak lucu”. Suara orang yang sudah sangat kukenal itu membuatku kaget. “Ih... ngagetin aja sih San”. Ucapku berlagak marah.
“Eh... nih ada surat buat kamu?”. Katanya sambil menyerahkan amplop warna biru laut kepadaku.
What? Gak salah denger nih? Surat? Emang masih ada ya orang berkirim surat?”. Tanyaku sambil tertawa.
“Heh, monyong lu, surat itu lebih romantis ya dari pada sms”. Ucapnya ngedumel.
“Emang kamu ama pacarmu masih sering surat-menyurat kayak gini ya?”. Aku masih juga tertawa.
“Brisik lu, udah ah baca aja sendiri ya tuh guruku udah mau masuk. Cabut duluan ya, bye bye Sachi”. Dia tersenyum penuh arti padaku. Kemudian berlalu. Setelah Sandy pergi akupun kembali masuk kelas dan memasukkan surat itu kedalam tas karena Bu Ika, guru kimia kesukaanku sudah masuk kelas.
@®@
Aku kaget bukan kepalang. Pasalnya surat yang kuterima tadi siang itu ternyata dari salah satu teman dalam organisasi yang ku ikuti. Yang lebih membuatku lebih syok lagi, dia bilang dia suka sama aku. What…? Gak salah…? Dia dan aku beda banget, terutama prinsip hidupnya. Dia yang begitu religius, sementara aku yang selengekan kaya gini, itu sudah merupakan perbedaan yang mungkin sangat sulit tuk disatukan. Dan satu lagi, hatiku masih untuk Alan.
Jujur aku lelah terus seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, di luar aku bisa bohong tapi hati itu memang selalu jujur tak bisa bohong. Terkadang aku ingin berlari dari semua kehidupan ini, tapi aku tak punya arah yang pasti, tak punya pelabuhan untuk berhenti.
Aku kembali memasukkan surat itu ke dalam amplopnya dan kemudian ku masukkan dalam laci meja belajarku. Hari ini aku sedang tak ingin terlalu banyak berfikir.
@®@
“Hai”. Sebuah sapaan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kepadanya meski sebenarnya tanpa menoleh juga aku tahu siapa dia.
“ehmm... lagi apa Chi?” pertanyaan yang super-super gak penting.
“lagi duduk” matamu masih normalkan, gak lihat aku lagi ngapain? Gerutuku dalam hati. Dia itu orangnya. Dia Andi, orang yang memberiku surat. Sebenarnya dari segi fisik dia tidak mengecewakan, namun banyak alasan yang membuatku tidak bisa respek sama dia. Yang pertama, jelas dia tidak gentle. Buktinya nembak aku aja lewat surat, kalo dia gentle harusnya dia berani mengungkapkannya langsung didepanku. Yang kedua, dari awal sape akhir, aku gak punya perasaan apapun sama dia. Jadi aku tak mau bermain api, aku gak mau mempermainkan hati anak manusia ini. yang ketiga dan selanjutnya, aku masih ingin sendiri, aku masih mengharap dia kan kembali, entah kenapa hatiku masih yakin dia akan kembali padaku.
“Chi, kamu gak apa-apa?” aku tersentak mendengar suaranya.
“aaa... iya gak apa-apa kok.” Aku pura-pura melihat jam tanganku berusaha mencari alasan untuk kabur. “Ndi, aku ke kelas dulu ya” kataku kemudian melangkah hendak meninggalkan dia.
“Chi” panggilan itu membuatku terpaksa menghentikan niatku untuk segera kabur. Aku menoleh kepadanya, ku tangkap raut wajahnya yang bingung. “g.. gim... gimana suratku udah ka.. kamu baca?” tanyanya menggagap kayak anak-anak kalo lagi berhadapan sama bu Dewi guru paling killer yang namanya sudah santer di seantoro MAN 1 Pacitan ini.
“udah” jawabku singkat.
“t.. te.. te.. terus gimana?”
“apanya yang gimana?”
“ya.. ya.. jawaban ka.. kamu”
Aku tersenyum melihat dia yang begitu gugup, rasaanya lucu aja. Tapi dengn tampang seperti itu keputusanku semakin meningkat mencapai 100% “maaf Ndi, tapi aku gak bisa.” Jawabku tanpa basa basi lagi. Kamu aja jadi gagap gini di depanku bagaimana mungkin kamu bisa mengendalikan aku? Sedangkan aku paling gak suka sama cowok lemah yang hanya mengangguk dengan apapun perintah ceweknya. Dan melihat kamu yang di depan aku sekarang ini, sepertinya kamu akan seperti itu Ndi. Aku butuh cowok yang bisa mengatakan TIDAK saat menurutnya itu tidak baik untukku, untuknya dan untuk kita. Aku butuh orang yang bisa aku ajak diskusi yang punya prinsip sendiri, yang bisa memberi dan meminta, bukan orang yang hanya bisa mengatakan “iya sayang, aku ngikut aja deh apa katamu”.
Kulirik sekilas raut wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar jelas disana. “maaf Ndi” ucapku untuk yang terakhir kemudian ku tinggalkan dia merenung sendirian. “sebenarnya kamu baik Ndi, Cuma aku hampir tak punya alasan untuk menerimamu, kamu pasti mendapatkan orang yang cocok sama kamu Ndi” gumamku lirih.

By : Akimoto Sachiko
Malang, 07 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar