PROLOG
Teruntuk Kana, sahabatku
Aku tau kamu sudah tak sendiri lagi, aku tau betapa lancangnya aku kepadamu dengan menuliskan pesan ini untukmu. Tetapi Na, untuk terakhir kalinya aku ingin menyapamu sekali lagi. Aku ingin bercerita padamu seperti dulu sekali lagi.
Setitik bening air mata bergulir membasahi pipinya, kemudian disusul bulir-bulir air mata berikutnya. hujan yang terus turun sejak siang tadi seolah ikut menangis bersamnya. 5 tahun berlalu sejak dia memutuskan sesuatu yang menurutnya terbaik untuk hidupnya, sejak dia menerima kenyataan pahit tentang kisah cintanya yang tak tergapai, yang dengan susah payah coba dia kubur dalam-dalam, kini menyeruak kembali hanya karena beberapa baris kalimat yang tertera dilayar ponsel pintarnya, surat elektronik dari masa lalu yang mampu menggetarkan hatinya. Kerinduannya kembali muncul kepermukaan terwujud dalam isak tangis yang sulit diredakan. Selalu begitu. Itulah kenapa sesedih apapun hatinya Kana berusaha menahan air matanya. Karena satu butir saja terjatuh, maka akan sangat sulit untuk dihentikan.
“Na, kenapa?” Sebuah tepukan lembut mengejutkannya. Kana buru-buru menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam laki-laki tampan itu.
“Gak apa-apa, hanya rindu Ibu”. Jawabnya berbohong. Kana tak ingin melukai hati suaminya lagi, sudah cukup kesabaran laki-laki ini atas dirinya selama ini.
Dia duduk disamping Kana, kemudian memeluk lembut Kana. “Oke, sabtu nanti kita ke rumah ibu, gimana?”
Kana hanya mengangguk dan balas memeluk, mencoba mencari ketenangan, mencoba mencari rasa yang samar disana, mencari rasa yang dulu sekali pernah ada, sambil mencoba mengenyahkan bayangan seseorang dimasa lalu yang masih saja tak mau benar-benar hengkang dari hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar