Sabtu, 02 Oktober 2021

Tentang Takdir, siapa yang tau?

  Bayangkan jika sesutu terjadi pada seseorang karena omongan anda yang suka semena-mena. Jika suatu hari ada orang yang hidupnya terus kalian usik, tetapi kalian tak pernah menyadari bahwa hal itu sangat mengganggu. "Kerja dimana? Aduh lulusan sarjana kok kerja disitu, gak sayang ijazahnya?" "Kapan nikah? Udah berumur kok belum nikah? si A lho mau nikah bulan depan". "Kok belum punya anak, padahal yang nikah belakangan udah pada punya anak?". "Eh, kok cepet ya? coba deh dihitung baru kapan hari nikah udah hamil aja, jangan-jangan hamil duluan"

Pertanyaan dan pernyataan klasik yang cukup menjengkelkan bukan? Namun nyatanya itu seolah menjadi budaya di Negeri tercinta ini. Siapa yang mau disalahkan ketika seseorang belum bertemu jodohnya? Siapa yang mau disalahkan ketika seseorang masih juga belum punya anak saat usia pernikahan sudah lebih dari 1 bulan? Atau siapakah yang harus disalahkan ketika seeorang menikah ketika masa subur dan dalam kondisi yang sangat bagus kemudian langsung dinyatakan positif hamil ketika baru 1 bulan menikah? Apakah harus menyalahkan Tuhan? Karena Jodoh, Pati, Rizki ada ditangan Tuhan. Kadang saya bertanya-tanya sadarkakh anda, secara tidak langsung anda sedang mendikte Tuhan kemudin mempertayakan ketentuan Tuhan ketika ada yang tidak sesuai dengan pikiran anda?

Suatu ketika seseorang terus saja diusik dengan pertanyaan "Kapan nikah?" sejak usianya baru masuk 20an, 5 tahun kemudian mulai dijodoh-jodohkan. Kemudian dia bertemu seorang lelaki, mereka masih dalam tahap pengenalan, tetapi orang sekitar sudah mendesak untuk segera menikah saja. Hingga akhirnya mereka menikah.

Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka belum juga memiliki momongan, orang-orang sekitarpun kembali julid, "Gimana sih kok masih belum punya anak? Itu aja yang nikah belakangan sudah hamil". Dia pun kembali tertekan, belum lagi urusan rumah tangga yang ternyata tak seindah kata orang. Mereka sering berbeda pendapat, belum lagi masalah finansial dan masalah-masalah lain yang harus mereka hadapi hingga jika tidak bisa mengatasi akan berakhir dengan pertengkaran, karena pada dasarnya mereka memang belum terlalu mengenal sebelum menikah. Hingga akhirnya berakhir perpisahan.

Sekali lagi orang-orang sekitar nyinyir tiada henti. "Makanya, kalau aja dulu sama si Fulan, pasti gak bakalan kayak gitu, dia orangnya sudah jelas, tanahnya luas, punya sapi, kambing, ayam, semut, nyamuk, lalat. nekat nikah sama orang yang belum terlalu dikenal ya gitu, ujung-ujungnya buyar juga".

Ah netijen memang maha benar. siapa dulu yang nyuruh cepat-cepat nikah, sampai kemanapun melangkah selalu ditanyakan? Ada yang bilang "Gitu aja baper". Please, ini bukan lagi masalah BAPER, ada hal-hal yang boleh dijadikan bahan bercanda, tetapi ada pula hal yang karena ucpan anda akan berakibat fatal bagi orang lain. Bisa dibilang masuk kategori bullying.

Bertanya boleh saja, tapi ada atitudenya. bertanya dengan nada yang biasa saja, tidak merendahkan, ataupun terkesan menyalahkan, akan lebih baik jika bisa menguatkan dan memberinya motivasi. Menanyakan hal yang sama juga membuat orang merasa jengah dan terganggu. Misalnya saja "Gimana? belum mau nikah kah?" jika dia jawab "Belum nih". jika anda tidak bisa memberikan tanggapan positif lebih baik diam dan ganti topik. atau berikan penguatan "Ya udahlah, nanti kalau sudah waktunya pasti bakalan nikah juga, mungkin Tuhan masih mempersiapkan seseorang yang terbaik untukmu". Sudah cukup. Jangan tanyakan hal yang sama ketika bertemu lagi, toh tak perlu ditanyakan dia pasti akan mengumumkan kalau menikah.

Soal anak, dia belum memiliki anak, tentunya bukan dia yang mau. Seperti kita tau sebagian pernikahan terjadi karena mereka menginginkan keturunan. Tetapi ketika anda terus mencercanya dengan pertanyaan yang terdengar merendahkan, dia semakin merasa tertekan. ingat keadaan psikologi juga bisa mengganggu program kehamilan. Sekali lagi jika anda begitu penasaran jangan menggunakan nada seorang hakim untuk bertanya seolah-olah dia terdakwa. berikan kata-kata yang bersahabat, sehingga membantunya sedikit tenang. Atau lebih baik diam saja, tak usah bertanya akan lebih baik, setidaknya bantu dia dengan tidak mengganggu kondisi psikologisnya agar kesempatan hamilnya sedikit bertabah. Begitupun bagi yang segera hamil setelah menikah, tak perlu lah dipermasalahkan, toh dia hamil ada suaminya, dia hamil juga bukan karena hubungan gelap dengan suami anda bukan? Itu tidak ada sangkut pautnya dengan anda, kenapa anda harus ribut? Kalau ucapan anda ternyata membuatnya stress ketika hamil, dan menyebabkannya stress hingga terjadi sesuatu pada janinnya yang ternyata lemah, apa anda au bertanggung jawab? Tentu saja tidak bukan, sebagian besar jutru akan berkomentar pedas lagi dan lagi. Bukankah lebih bagus jika ikut berbahagia, atau cukup diam dan menonton sajalah, lebih baik lagi jika tidak usah ikut campur dan urus saja pekerjaan rumah anda yang menumpuk itu. terkadag sikap tidak peduli lebih baik daripada yang bercosplay peduli tetapi justru terasa menyudutkan.

Ada sebuah artikel yang pernah saya baca, 90% penyakit itu berasal dari pikiran, sedang 10% sisanya disumbang oleh pola makan. So, jika anda masih saja hobby nyinyir dan ikut campur urusan orang lain, bisa jadi anda sedang melakukan pembunuhan tidak disengaja, atau bisa juga bunuh diri tanpa sadar. Mari berkaca jangan asal bicara, Jangan menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya, koreksi diri agar tidak menjadi seperti pepatah semut diseberang lautan tampak sedangkan gajah dipelupuk mata tak tampak. tak ada manusia sempurna, bahkan malaikat dan Iblispun tidak sempurna, mungkin hanya para Nabi yang mendekati sempurna mereka sebaik-baiknya manusia tetapi tetap saja kesempurnaan hanya milik Tuhan semesta Alam.

And the last, stay calm, hidup hanyalah panggung sandiwara bukan? berbuatlah untuk akhiratmu seolah esok kamu akan mati, dan berbuatlah untuk duniamu seolah kamu akan hidup selamanya.

#justsay #otwintrospeksi

FAITH (Rasa yang Terhalang)

  PROLOG

Teruntuk Kana, sahabatku

Aku tau kamu sudah tak sendiri lagi, aku tau betapa lancangnya aku kepadamu dengan menuliskan pesan ini untukmu. Tetapi Na, untuk terakhir kalinya aku ingin menyapamu sekali lagi. Aku ingin bercerita padamu seperti dulu sekali lagi.

Setitik bening air mata bergulir membasahi pipinya, kemudian disusul bulir-bulir air mata berikutnya. hujan yang terus turun sejak siang tadi seolah ikut menangis bersamnya. 5 tahun berlalu sejak dia memutuskan sesuatu yang menurutnya terbaik untuk hidupnya, sejak dia menerima kenyataan pahit tentang kisah cintanya yang tak tergapai, yang dengan susah payah coba dia kubur dalam-dalam, kini menyeruak kembali hanya karena beberapa baris kalimat yang tertera dilayar ponsel pintarnya, surat elektronik dari masa lalu yang mampu menggetarkan hatinya. Kerinduannya kembali muncul kepermukaan terwujud dalam isak tangis yang sulit diredakan. Selalu begitu. Itulah kenapa sesedih apapun hatinya Kana berusaha menahan air matanya. Karena satu butir saja terjatuh, maka akan sangat sulit untuk dihentikan.

“Na, kenapa?” Sebuah tepukan lembut mengejutkannya. Kana buru-buru menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam laki-laki tampan itu.

“Gak apa-apa, hanya rindu Ibu”. Jawabnya berbohong. Kana tak ingin melukai hati suaminya lagi, sudah cukup kesabaran laki-laki ini atas dirinya selama ini.

Dia duduk disamping Kana, kemudian memeluk lembut Kana. “Oke, sabtu nanti kita ke rumah ibu, gimana?”

Kana hanya mengangguk dan balas memeluk, mencoba mencari ketenangan, mencoba mencari rasa yang samar disana, mencari rasa yang dulu sekali pernah ada, sambil mencoba mengenyahkan bayangan seseorang dimasa lalu yang masih saja tak mau benar-benar hengkang dari hatinya.