Udara pengap yang tengah menyerbu kota Arema disiang
bolong tak menyurutkan semangat empat gadis cantik itu untuk terus memutari
area perbelanjaan Gajah Mada. Para penjual yang mereka datangi pun tak mau
menurunkan harga dagangannya. Walhasil, hampir 2 jam berputar-putar,
berpuluh-puluh pedagang yang mereka datangi namun belum ada satupun barang yang
berhasil mereka beli.
“rek, capek
aku. Cari minum dulu yuk.” Ujar Aida. Gadis manis dengan kulit sawo matang itu
tampak sudah lunglai.
“ya udah deh ayo.” Tak perlu banyak debat, Susi, Reni dan
Uni segera mengiyakan usulan Aida. Tak jauh dari tempat terakhir mereka
bernegosiasi dengan ibu-ibu penjual sepatu, ada penjual teh poci. Merekapun
segera memesan 4 gelas. Karna tak mau ribet pesen, keempatnya memesan rasa yang
sama.
“kenapa sih Da, dari tadi liatin hp mulu.” Tanya Susi.
Risih juga dia melihat sahabatnya yang dari tadi tampak tak bisa tenang. Aida
hanya tersenyum dan menggeleng. Begitulah gadis satu ini, lebih banyak menutup
diri tentang masalah pribadinya. Dia tak ingin orang lain ikut pusing
memikirkan masalahnya. Masalah
kubiat-buat sendiri, ya harus aku selesaiin sendiri. Kenapa musti bikin susah
orang lain, kalo sendiri saja masih mampu. Itu yang slalu dia fikirkan. Apa
lagi masalah cinta-cintaan, paling yang dia certain sama sahabat-sahabatnya itu
Cuma kalau lagi seneng aja. Kalau yang sedih dan gak enak dia memilih diam.
Sikap tertutup Aida itu bukan tanpa alasan. Dia pernah
punya sahabat dan begitu terbuka dalam hal apapun. Entah itu senang, entah itu
sedih, selalu dia bagi sama sahabatnya itu. Erna namanya. Orang yang pernah
menjadi sahabat yang sangat dia percayai.
Awal SMA mereka bertemu dalam satu kos. Dan kebetulan
waktu pembagian kelas mereka sama-sama masuk kelas X-3. Jadilah mereka sepasang
sahabat yang bersama kemana-mana. Bahkan ketika Aida sudah memiliki Dion
sebagai pacarnya, kedekatan kedua sahabat itu tak pernah renggang. Segala
sesuatu tetang Dionpun jadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Entah itu
sesuatu yang sedih ataupun yang menyenangkan. Erna juga selalu menjadi penengah
bila mereka berdua sedang renggang, Erna juga yang jadi perantara ketika Aida
dan Dion bertengkar. Dion dan Ernapun juga jadi sahabat.
Awalnya semua berjalan indah bagi Aida. Namun seiring
berjalannya waktu keadaan sedikit demi sedikit mulai berubah. Dion mulai sulit
dihubungi. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Selalu banyak alasan, namun
Aida tak mau terlalu ambil pusing dia terim saja alasan Dion tanpa banyak
Tanya. Meski begitu Aida tak tahan untuk tidak curhat dengan sahabatnya itu.
Erna berusaha sebisanya memberikan nasehat dan mendinginkan Aida agar tidak
terlalu curigaan.
“apa mungkin dia bosan ya ama aku Er?”. Tanyanya suatu
waktu.
“Enggaklah Da, mungkin dia emang lagi sibuk.” Ucap Erna
lembut.
“tapi dulu dia gak kayak gini Er, kamu tau sendiri kan?”
“iya Da, apa sih yang aku gak tau diantara kalian.”
“iya juga sih, bahkan mungkin kamu lebih tau ketimbang
aku dan Dion sendiri. Tapi Er, serius deh, kata orang perasaan cewek itu gak
bisa dibohongin kalau cowoknya lagi gak bener. Gak tau kenapa aku ngerasa ada
yang lain Er.” Aida mengambil nafas sejenak. “emang Dion sering sih kayak gini,
tapi aku gak ada rasa aneh gini”
“mungkin itu perasaan kamu aja Da, masih ingetkan gimana
dia ngejar-ngejar kamu. Gimana dia nunggu kamu, bukannya kamu sendiri udah
menguji ketulusannya dengan gak nerima dulu untuk beberpa minggu padahal
kamunya juga suka banget sama dia.” Ucap Erna panjang lebar menanggapi curhatan
sahabatnya.
Aidapun mengiyakan kata-kata sahabatnya. Hanya saja dia
tetap merasa ada yang aneh, ada yang hilang dalam hubungannya. Meskipun
ketemuan, Dion sering tak bisa lama-lama padahal biasanya juga susah diajak
pulang. Ah entahlah, mungkin benar kata
Erna, ini Cuma perasaanku aja. Pikir Aida.
Hingga suatu hari Aida mendapat pesan dari Dion, isinya
“Er, ntar ajarin aku fisika lagi ya.” Itu bunyi smsnya. “Er? Er siapa? Erna
maksud kamu?” balas Aida. Tunggu, barusan
dia bilang sibuk, sampai peasanku tak dibalas, tapi ini…..
Tanpa banyak kata dia pergi kekamar Erna, kebetulan Erna
sedang mandi, tampak handphone Erna tergeletak diatas meja belajarnya. Tanpa
banyak kata, Aida langsung membuka inbox yang penuh terisi nama Sandi. Aida
mengecek nomornya, dan dia tambah shock mendapati nomor yng bernnama Sandi itu
adalah nomor milik Dion. Ya memang Dion Prasandi namanya. Pesannya tampak
begitu akrab dan dalam durasi yang panjang, bahkan terlihat dari waktu yang
tertera disaat-saat Dion tak membalas pesannya, dia masih membalas pesan Erna.
Sekarang Aida tahu siapa bayangan itu. Tepat saat Aida
hendak keluar dari kamarnya Erna masuk kamar. “ada apa Da?” Tanya Erna seperti
biasa.
“gak ada. Kamu ini mandi lama banget.” Ucap Aida menutupi
perasaannya dengan berusaha tersenyum seperti tak ada apa-apa. Tanpa menunggu
jawaban Aida meninggalkan kamar Erna kembali ke kamarnya. Air matanya mulai
menetes. Yang dia sesalkan, kenapa mesti sahabat yang sangat dipercayainya? Dan
kenapa Erna tak pernah bilang apa-apa tentang itu? Dia orang yang sangat tau
bagaimana perasaannya terhadap Dion dan 1 lagi kenapa pake nama itu? Padahal
selama ini mereka sama-sama manggil dengan panggilan Dion.
Malamnya Aida minta bertemu sama Dion dan tak menerima
penolakan. Mereka berdua jalan ketaman kota. Saat itulah Aida mengungkapkan
semua kekesalannya. Hingga berakhir dengan keputusan yang sebenarnya berat buat
Aida mengingat bagaimana perasaannya buat Dion. Tapi selama ini dia sudah cukup
menahan untuk tidak bertanya akan perubahan Dion. Dia memilih diam. Dan akhirnya
sang waktu menjawabnya meski jawaban itu benar-benar diluar akal sehatnya.
Hatinya memang tak pernah salah. Bayangan itu Erna namanya. Setelah itu Aida
memutuskan untuk berpindah kos. Sudah
cukup setahun ini saja aku bersama dengan pendusta. Begitu kata hatinya.
Dan sampai dia menginjak semester 6 ini belum ada kata maaf terucap dari bibir
Erna dan belum ada pejelasan apapun juga. Hanya saja dia tak pernah jadian
dengan Dion. Mungkin itu caranya mengganti ucapan permintaan maafnya.
Itulah kenapa sekarang Aida menjadi gadis yang begitu
tertutup. Dia tak ingin hubungannya dengan Rava kandas seperti halnya
hubungannya dengan Dion. Ini kali kedua Aida menyukai seseorang lagi.
“aw… dingin tau.” Teriak Aida ketika segelas es teh poci
itu menempel dipipinya. Membuat lamunannya tentang masa lalu seketika buyar.
“udah berlayar kemana aja non? Hahaha…. Ngelamun aja sih,
Da.” Ucap Susi disusul tawa renyahnya dan kedua sahabatnya itu.
“sialan…” Aidapun ikut tertawa.
By :
Akimoto
Sachiko Malang, 16 mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar