Sabtu, 16 Mei 2015

BAYANGAN ITU PUNYA NAMA

             Udara pengap yang tengah menyerbu kota Arema disiang bolong tak menyurutkan semangat empat gadis cantik itu untuk terus memutari area perbelanjaan Gajah Mada. Para penjual yang mereka datangi pun tak mau menurunkan harga dagangannya. Walhasil, hampir 2 jam berputar-putar, berpuluh-puluh pedagang yang mereka datangi namun belum ada satupun barang yang berhasil mereka beli.
            “rek, capek aku. Cari minum dulu yuk.” Ujar Aida. Gadis manis dengan kulit sawo matang itu tampak sudah lunglai.
            “ya udah deh ayo.” Tak perlu banyak debat, Susi, Reni dan Uni segera mengiyakan usulan Aida. Tak jauh dari tempat terakhir mereka bernegosiasi dengan ibu-ibu penjual sepatu, ada penjual teh poci. Merekapun segera memesan 4 gelas. Karna tak mau ribet pesen, keempatnya memesan rasa yang sama.
            “kenapa sih Da, dari tadi liatin hp mulu.” Tanya Susi. Risih juga dia melihat sahabatnya yang dari tadi tampak tak bisa tenang. Aida hanya tersenyum dan menggeleng. Begitulah gadis satu ini, lebih banyak menutup diri tentang masalah pribadinya. Dia tak ingin orang lain ikut pusing memikirkan masalahnya. Masalah kubiat-buat sendiri, ya harus aku selesaiin sendiri. Kenapa musti bikin susah orang lain, kalo sendiri saja masih mampu. Itu yang slalu dia fikirkan. Apa lagi masalah cinta-cintaan, paling yang dia certain sama sahabat-sahabatnya itu Cuma kalau lagi seneng aja. Kalau yang sedih dan gak enak dia memilih diam.
            Sikap tertutup Aida itu bukan tanpa alasan. Dia pernah punya sahabat dan begitu terbuka dalam hal apapun. Entah itu senang, entah itu sedih, selalu dia bagi sama sahabatnya itu. Erna namanya. Orang yang pernah menjadi sahabat yang sangat dia percayai.
            Awal SMA mereka bertemu dalam satu kos. Dan kebetulan waktu pembagian kelas mereka sama-sama masuk kelas X-3. Jadilah mereka sepasang sahabat yang bersama kemana-mana. Bahkan ketika Aida sudah memiliki Dion sebagai pacarnya, kedekatan kedua sahabat itu tak pernah renggang. Segala sesuatu tetang Dionpun jadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Entah itu sesuatu yang sedih ataupun yang menyenangkan. Erna juga selalu menjadi penengah bila mereka berdua sedang renggang, Erna juga yang jadi perantara ketika Aida dan Dion bertengkar. Dion dan Ernapun juga jadi sahabat.
            Awalnya semua berjalan indah bagi Aida. Namun seiring berjalannya waktu keadaan sedikit demi sedikit mulai berubah. Dion mulai sulit dihubungi. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Selalu banyak alasan, namun Aida tak mau terlalu ambil pusing dia terim saja alasan Dion tanpa banyak Tanya. Meski begitu Aida tak tahan untuk tidak curhat dengan sahabatnya itu. Erna berusaha sebisanya memberikan nasehat dan mendinginkan Aida agar tidak terlalu curigaan.
            “apa mungkin dia bosan ya ama aku Er?”. Tanyanya suatu waktu.
            “Enggaklah Da, mungkin dia emang lagi sibuk.” Ucap Erna lembut.
            “tapi dulu dia gak kayak gini Er, kamu tau sendiri kan?”
            “iya Da, apa sih yang aku gak tau diantara kalian.”
            “iya juga sih, bahkan mungkin kamu lebih tau ketimbang aku dan Dion sendiri. Tapi Er, serius deh, kata orang perasaan cewek itu gak bisa dibohongin kalau cowoknya lagi gak bener. Gak tau kenapa aku ngerasa ada yang lain Er.” Aida mengambil nafas sejenak. “emang Dion sering sih kayak gini, tapi aku gak ada rasa aneh gini”
            “mungkin itu perasaan kamu aja Da, masih ingetkan gimana dia ngejar-ngejar kamu. Gimana dia nunggu kamu, bukannya kamu sendiri udah menguji ketulusannya dengan gak nerima dulu untuk beberpa minggu padahal kamunya juga suka banget sama dia.” Ucap Erna panjang lebar menanggapi curhatan sahabatnya.
            Aidapun mengiyakan kata-kata sahabatnya. Hanya saja dia tetap merasa ada yang aneh, ada yang hilang dalam hubungannya. Meskipun ketemuan, Dion sering tak bisa lama-lama padahal biasanya juga susah diajak pulang. Ah entahlah, mungkin benar kata Erna, ini Cuma perasaanku aja. Pikir Aida.
            Hingga suatu hari Aida mendapat pesan dari Dion, isinya “Er, ntar ajarin aku fisika lagi ya.” Itu bunyi smsnya. “Er? Er siapa? Erna maksud kamu?” balas Aida. Tunggu, barusan dia bilang sibuk, sampai peasanku tak dibalas, tapi ini…..
            Tanpa banyak kata dia pergi kekamar Erna, kebetulan Erna sedang mandi, tampak handphone Erna tergeletak diatas meja belajarnya. Tanpa banyak kata, Aida langsung membuka inbox yang penuh terisi nama Sandi. Aida mengecek nomornya, dan dia tambah shock mendapati nomor yng bernnama Sandi itu adalah nomor milik Dion. Ya memang Dion Prasandi namanya. Pesannya tampak begitu akrab dan dalam durasi yang panjang, bahkan terlihat dari waktu yang tertera disaat-saat Dion tak membalas pesannya, dia masih membalas pesan Erna.
            Sekarang Aida tahu siapa bayangan itu. Tepat saat Aida hendak keluar dari kamarnya Erna masuk kamar. “ada apa Da?” Tanya Erna seperti biasa.
            “gak ada. Kamu ini mandi lama banget.” Ucap Aida menutupi perasaannya dengan berusaha tersenyum seperti tak ada apa-apa. Tanpa menunggu jawaban Aida meninggalkan kamar Erna kembali ke kamarnya. Air matanya mulai menetes. Yang dia sesalkan, kenapa mesti sahabat yang sangat dipercayainya? Dan kenapa Erna tak pernah bilang apa-apa tentang itu? Dia orang yang sangat tau bagaimana perasaannya terhadap Dion dan 1 lagi kenapa pake nama itu? Padahal selama ini mereka sama-sama manggil dengan panggilan Dion.
            Malamnya Aida minta bertemu sama Dion dan tak menerima penolakan. Mereka berdua jalan ketaman kota. Saat itulah Aida mengungkapkan semua kekesalannya. Hingga berakhir dengan keputusan yang sebenarnya berat buat Aida mengingat bagaimana perasaannya buat Dion. Tapi selama ini dia sudah cukup menahan untuk tidak bertanya akan perubahan Dion. Dia memilih diam. Dan akhirnya sang waktu menjawabnya meski jawaban itu benar-benar diluar akal sehatnya. Hatinya memang tak pernah salah. Bayangan itu Erna namanya. Setelah itu Aida memutuskan untuk berpindah kos. Sudah cukup setahun ini saja aku bersama dengan pendusta. Begitu kata hatinya. Dan sampai dia menginjak semester 6 ini belum ada kata maaf terucap dari bibir Erna dan belum ada pejelasan apapun juga. Hanya saja dia tak pernah jadian dengan Dion. Mungkin itu caranya mengganti ucapan permintaan maafnya.
            Itulah kenapa sekarang Aida menjadi gadis yang begitu tertutup. Dia tak ingin hubungannya dengan Rava kandas seperti halnya hubungannya dengan Dion. Ini kali kedua Aida menyukai seseorang lagi.
            “aw… dingin tau.” Teriak Aida ketika segelas es teh poci itu menempel dipipinya. Membuat lamunannya tentang masa lalu seketika buyar.
            “udah berlayar kemana aja non? Hahaha…. Ngelamun aja sih, Da.” Ucap Susi disusul tawa renyahnya dan kedua sahabatnya itu.
            “sialan…” Aidapun ikut tertawa.


                                                                                     By :

                                                                                          Akimoto Sachiko Malang, 16 mei 2015

Senin, 11 Mei 2015

MAMA

            Malam telah larut, Arini masih terpekur dalam do’a panjangnya. Air mata tampak menganak sungai dipipinya. Entah apa yang dia minta pada Tuhan hingga begitu khusuknya dia berdo’a. dua tahun ini seperti mimpi buruk baginya. Mimpi buruk yang tak tahu ujungnya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya. Tak berapa lama kemudian dia tertidur. Mungkin dia lelah menangis.
            “Rin, bangun sayang, waktunya solat subuh.” Sebuah suara lembut yang sudah sangat dikenalnya itu membangunkannya dari tidur. Dilihtnya senyum manis mamanya yang begitu dia rindukan tampak didepannya. Entah kenapa dia merasa asing dengan keadaan ini. Dia mengusap-usap matanya kemudian bangun dengan malas.
            “Ayo buruan ambil air wudlu sudah ditunggu papa dimushola.” Tanpa menunggu jawabannya, sang mama sudah beranjak dari kamarnya. Dia segera bangun kemudian mengambil air wudlu kemudian berjalan kemushola. Dalam diamnya dia masih cukup bingung. “kenapa ini terasa begitu asing? Rasanya aku sudah lama sekali tidak mengalami keadaan seperti ini. Apa yang aneh? Apa yang tidak normal?” bisiknya dalam hati.
            Seusai sholat dia kembali kerumah bersama mama papanya. Seperti biasa papa kembali melanjutkan tidurnya sambil nunggu jam berangkat kerja. Sedang Arini mengkuti mamanya kedapur untuk membantu memasak. Sesekali dia memandangi mamanya. Entah kenapa dia merasa aneh dengan keberadaan mamanya. “kenapa to Rin, dari tadi bengong aja, buruan dipotongin itu sayurannya keburu siang”. Ucapan mamanya membuatnya tersentak kaget.
            “I… Iya ma” sahutnya terbata-bata. “sudahlah mungkin Cuma perasaanku aja yang aneh” dia berucap pada diinya sendiri. Dia mulai berkonsentrasi pada pekerjaannya sambil berusaha tak terlalu memikirkan hal-hal yang tdak masuk akal.
            Setelah semua selesai, Arini pergi mandi kemuadian sarapan bersama keluarganya baru kemudian dia pergi ke kampus. Sepanjang hari dia terus kepikiran tentang mamanya bahkan kuliah pun dia tak bisa konsentrasi. “tunggu, tunggu”. Seperti mendapat angin segar dia kemudian bangkit dari duduknya. “Sa, izinin aku ya, aku gak bisa ikut kuliahnya pak Rofiqi.” Ucapnya pada Sasa, sahabatnya. Tanpa banyak kata dia mulai mengemas barang-barangnya.
            “kenapa Rin?” Tanya Sasa yang bingung melihat tingkah aneh sahabatnya ini. Tak biasanya dia gak masuk kuliah.
            “Bilang aja aku sakit.” Tanpa memperdulikan sahabatnya yang masih bengong saking bingung dengan tngkahnya, dia menyandang tasnya dan berlalu meninggalkan ruang kelas yang hanya tinggal menunggu dosen datang saja.
            Tak perlu waktu lama buat Arini sampai dirumah, karna jarak rumahnya kekampus hanya butuh waktu 15 menit dengan mengendarai motor.     Sesampai di rumah dia memarkirkan motornya sembarangan saja. Dia kemudian masuk kedalam rumahnya. “mama, mama” teriaknya sambil mencari-cari mamanya.
            Mamanya menghampirinya dengan tergopoh-gopoh karna kaget. “ada apa Rin? Kok sudah pulang gak ada dosennya?”. Tanya mamanya.
            “Mama, berarti tadi malem Arini Cuma mimpi.” Ucapannya membuat mamanya bingung.
            “mimpi apa Rin.”
            “Rini mimpi mama pergi ma, mama pergi gak pernah kembali. Rini mimpi lama sekali ma, sampai Rini kira itu nyata, makanya dari tadi Rini agak bingung. Syukurlah mama ada disini.” Arini berkata dengan berapi-api kemudian memeluk mamanya.
            “Mama kan memang baru pulang kemarin malam sayang. Kamu lupa ya?” Tanya mamanya sambil tersenyum dan balas memeluk putrid semata wayangnya itu. Arini tak menjawab, dia semakin erat memeluk mamanya, takut mamanya menghilng.
ÑÑÑ
            “Allahuakbar, Allaaaahuakbar”. Suara azan membangunkan Arini dari tidurnya. Dia bingung mendapati dirinya tertidur ditempatnya sholat. Hari masih gelap. Mimpi yang panjang nan indah, namun mengecewakan. “mama, mama beneran udah gak ada, aku mimpi begini lagi”. Air matanya mengalir deras. Antara bersyukur dipertemukan dengan mamanya yang sudah 2 tahun ini berpulang kerahmatullah, namun juga kekecewaan bahwa, lagi-lagi Cuma mimpi mamanya gak pernah pulang, mamanya benar-benar pergi dan tak kan pernah kembali lagi, tak pernah bisa ditemuinya lagi secara nyata.
            Dia pergi kekamar mandi dan mengambil air wudlu kemudian mulai menunaikan ibadah wajibnya. Setelah salam dia sujud kembali tak lama kemudian bangun dan menengadahkan tangannya. “Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa orang tuaku, dosa guru-guruku dan dosa seluruh umat muslim didunia ini. Khusus untuk ibuku ampuni dosanya semasa hidupnya ya Allah, jangan siksa beliau di dalam kuburnya, jangan biarkan beliau bersedih disana, Ya Allah masukkan beliau kedalam golongan orang-orang yang engkau ridloi, dan masukkan beliau kedalam syurgamu ya Allah. Jangan Kau siksa beliu karna kesalahanku ya Allah, karna aku tahu aku terlalu banyak dosa, dan sering kali dosa itu kuperbuat dengan sadar bahwa itu laranganmu. Aku seperti ini bukan karna orang tuaku yang salah mendidikku, mereka sudah mendidikku dengan lebih dari cukup tentang kebaikan, tentang agama. Bukan salah mereka ya Allah, Engkau maha tahu atas segala sesuatu. Engkaupun tahu itu murni kesalahanku, itu dosaku, bukan lantaran orang tuaku yang salah mendidikku ya Allah. Ya Allah hanya kepada-Mu aku memohon dan hanya pada-Mu aku mengadu. Ampunilah kedua orang tuaku ya Allah. Amin. Istajib du’a’ana ya Allah, Al-fatikhah”. Selesai membaca Al-fatikhah dia mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah baru kemudian dia melipat mukena dan meninggalkan tempatnya bersujud. Ñ

                                                                                    By :

Akimoto Sachiko, Malang, 10 Mei 2015