Siang
itu sang surya terus menghujamkan panasnya ke bumi, tapi satu hal yang perlu
disyukuri menjadi salah satu penghuni pedesaan. Karna, semilir angin khasnya
selalu mampu menghilangkan hawa panas yang dibawa matahari. Pedesaan memang terkenal
akan oksigennya yang bersih tanpa pencemaran.
Seorang
gadis manis tertidur begitu lelapnya di dalam rumah pohon yang didapat dengan
merengek-rengek pada ayahnya. Tersebutlah gadis ini termasuk korban film my
heart yang buming pada jamannya. Dan di rumah pohon ini pula tersimpan
kisah-kisah masa remajanya yang penuh khayalan bersama sahabat dan orang yang
pernah sangat dicintainya.
“Mbak
Airin…” Sebuah teriakan yang memekakkan telinga membangunkannya dari tidur
siangnya. Suara nyaring Andin itu membuatnya pusing saking terkejutnya
“Apa
sih Din, gak bisa pelan-pelan apa?” Omelnya.
“Mbak,
tau gak, mas Allan mau nikah lho”. Perkataan adik sepupunya itu membuatnya
terdiam sejenak.
“Terus
masalahnya apa? Nikahnya ama pacarnya kan?”. Tanyanya dengan nada tinggi dengan
maksud menenangkan hatinya.
“Cie…
gak cemburu kah?”. Goda Andin.
“Hah…?
Cemburu? Emang dia siapaku coba? Kamu ini ada-ada aja”.
“Kan
cinta pertama hehehe….”.
“Cinta
pertama itu masa lalu dasar kamu ini. Udah sana pergi gangguin orang tidur aja.
Kirain ada bom atom jatuh disini”. Airin mengusir adiknya dan kemudian kembali
merebahkan tubuhnya pura-pura tidur. Andin mengguncang-guncang tubuhnya sambil
terus menggoda, namun Airin tetap tak mau meladeni godaan dari sepupunya itu,
sampai akhirnya Andin menyerah dan pergi.
Sepeninggal
Andin, Airin membuka matanya perlahan. Kemudian senyum getir tergambar di
wajahnya. “Kamu sudah memilih ya Lan, jadi ini jawabanmu”. Airin membatin.
Kurang lebih satu tahun lalu terakhir kali Airin dan Allan bertemu untuk
terakhir kalinya. Kala itu Airin mengatakan pada Allan untuk menetapkan pada
satu hati. Dan ternyata lewat mulut Andin, Airin mendapatkan jawaban.
Semua
sudah jelas sekarang, tapi masih ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya.
Satu pertanyaan yang tak pernah terucap, yang membuatnya penasaran. Namun tak
pernah dia tanyakan pada orang yang seharusnya bisa menjawab rasa penasarannya
itu. Dia selalu berkata pada dirinya sendiri, “aku akan menanyakannya nanti
kalo ketemu dia”. Setelah ketemu berfikir lagi “Nanti aja kalo udah pulang aku
tanyakan lewat sms aja”. Begitu terus dan selalu begitu. Namun sekarang sudah terlambat untuk
bertanya. Kalopun mungkin ada 1% kemungkinan akan didapat jawaban seperti yang diharapkan,
namun itu tak kan mungkin dilakukannya, karna dia tak akan mau merusak sesuatu
yang sudah ditata rapi.
“Lan,
kalau aku bilang aku masih suka sama kamu gimana?” Itu satu kalimat yang
sebenarnya singkat yang sangat ingin ditanyakannya, yang selalu bikin dia
penasaran apa tanggapan Allan, bagaimana reaksinya jika mendengar kalimat itu.
Namun sayang sekali Airin memiliki harga diri yang sangat tinggi. Gadis satu
ini teramat sangat gensi untuk sekedar mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Semuanya dipendamnya sendiri. Dan seperti kejadian ini dikemudian hari dia
hanya akan menyesali, kenapa tak punya cukup keberanian untuk bertanya. Memang
99% tak kan merubah apapun, tapi seharusnya tak dia abaikan 1% yang tersisa.
Hari
ini dua tahun telah berlalu sejak kejadian itu, namun masih tetap menyisakan
penyesalan yang dalam dihati Airin. Dia selalu berandai-andai, kalau saja ada
sedikit keberanian, kalau saja dia menemukan mesin waktu, kalau saja, kalau
saja. Hanya itu yang bisa dilakukannya tapi tentu saja tak kan pernah menjawab
rasa penasarannya. Hanya saja memang segala sesuatu di dunia ini memiliki dua
sisi. Dia mendapatkan pelajaran dari kejadian itu. Airin mulai membuka diri,
mulai mengatakan apapun yang dirasakannya, diungkapkannya perasaannya. Seperti
halnya perasaannya pada Sandy, lelaki yang kini sangat dicintainya itu.
Dikatakannya apa yang tak dia suka, ditanyakannya apa yang dia ingin ketahui.
Semua dilakukan untuk mengurangi resiko menyesal dikemudian hari.
By:
Akimoto
Sachiko, Malang, 12 Oktober 2014