Kamis, 30 Oktober 2014

Warning...!!!

Sebagai pembaca yang baik, jangan lupa ya like dan tinggalkan komentar setelah selesai membaca... ! :)

By : Penulis Cerpen

Sabtu, 18 Oktober 2014

DIARY USANG

             Pagi yang cerah. Mentari menerobos memasuki rumah mewah itu melalui jendela-jendela kacanya. Penghuni di dalamnya tampak begitu sibuk. Hampir satu bulan telah lewat setelah acara besar-besaran yang digelar dirumah ini. Itulah acara pernikahan anak sulung mereka. Ya, sebulan lalu Reni melepas kesendiriannya menikah dengan seorang pengusaha muda yang bernama Andi. Lelaki yang telah sabar menunggunya selama hampir empat tahun terakhir ini, sabar menghadapi keegoisannya, sabar menghadapi kegilaannya yang kadang di luar kemampuan Andi.
            Besok pengantin baru ini berencana pindah kerumah mereka sendiri. Walhasil hari ini mereka sibuk mempersiapkan semuanya bahkan sebelum matahari pagi menyapa. Kedua orang tua Reni pun ikut bersibuk-sibuk ria membantu persiapan anak dan menantunya itu.
            Reni tengah membereskan perabotan-perabotan dikamarnya, mulai dari baju, alat make up sampai buku-buku dari jaman kebodohan yang masih tetap disimpannya. Sebuah buku mungil yang sudah cukup usang tergeletak manis diantara puluhan bahkan ratusan buku-bukunya mampu menarik perhatiannya. Dia mengambilnya kemudian membuka halaman pertama dibacanya pelan-pelan. Selesai membaca lembar pertama dia membuka lembar-lembar berikutnya. Buku mungil itu bercerit banyak tentang perjalanan hidupnya, tentang kenangan-kenangan bersama seorang yang pernah sangat dicintainya meskipun pada akhirnya tak bisa dia miliki.
            Reni muda yang begitu tertutup dan hanya mampu bercerita dalam lembar-lembar kertas dalam buku mungil bertemankan pena yang terus menggoreskan tintanya dalam halaman putih itu. Sudah cukup lama Reni tak membuka lagi diary usang itu lagi karna kalau dia membukanya dia harus siap disergap kenangan masa lalu dengan cinta pertamanya yang sekarang entah dimana. Deni itu namanya. Dan saat inipun kenangan mereka bersama kembali berlompatan memenuhi ingatannya dan tak bisa dipungkiri setiap kali dia mengingat tentang Deni dia kembali merasakan perasaan itu lagi. Deni yang selalu ada buat Reni, Deni yang ajaib, Deni cinta pertamanya, Deni cinta monyetnya yang masih terus dikenangnya, Deni yang selalu hidup dalam ingatannya, namun juga Deni yang pernah menyiksa batinnya, Deni yang cintanya kalah dengan jarak, Deni yang begini, Deni yang begitu, Deni, Deni dan Deni. Nama itu begitu istimewa dihatinya.
            Rasa itu masih tertinggal dihatinya. Itu kenyataan yang tak terbanntahkan bahkan sampai saat ini. Tapi apa boleh dikata, Deni sekarang berada entah dimana dan Reni sendiri sekarang juga sudah bersuami. Cinta itu terpaksa harus dibunuh dengan paksa atau kalau tidak hanya akan mendatangkan bencana luar biasa yang bahkan hanya membayngkannya saja Reni tak berani.
            Ingatannya melambung jauh menyusuri ruang dan waktu dan berhenti dimasa dimana dia merasa benar-benar hidup, merasa halangan apapun kan diterjangnya, masa dimana dia merasa bisa menaklukkan dunia, masa dimana kebahagiaan terasa hanya miliknya saja. Namun sedetik kemudian ingatannya melaju ke masa dimana hadir sebuah keputusan besar yang membuatnya merasa telah mati.
            Entah dendam apa yang ada diantara kedua orang tua mereka berdua, baik orang tua Reni maupun orang tua Deni sama-sama menentang hubungan diantara keduanya. Berbagai cara mereka lakukan demi memisahkan mereka berdua sampai akhirnya Deni dibawa orang tuanya pergi kenegeri Sakura. Awalnya masih baik-baik saja mereka masih kontak meski hanya lewat E-mail, bahkan Deni sempat menjanjikan dia akan kembali ke Indonesia. Namun itupun tak berlangsung lama. Kecurigaan dan ketidak percayaan hadir diantara mereka dan hubungan merekapun kandas hanya sampai disitu. Tapi perasaan Reni pada Deni tak berubah sama sekali, dia masih berharap suatu saat mereka berjodoh. Jarak memang menjadi hal yang menakutkan untuk sebuah hubungan.
            “Sayang”. Reni terlonjak kaget mendengar sapaan Andi yang tiba-tiba sudah dibelakangnya. Reni cepat-cepat menutup buku mungil itu kemudian mendekapnya erat-erat khawatir suaminya kan mengetahui apa yang coba disembunyikannya. “ada apa sayang?”.
            “E... enggak ada sayang, ini mau ngerapiin buku”. Jawabnya dengan sedikit gugup sambil berusaha tersenyum manis demi menyembunyikan kegugupnnya. Diakuinya, lelaki dihadapannya ini gak kalah dari segi manapun dibandingkan Deni, tapi memang terkadang benar bahwa cinta itu buta.
            Reni menoleh kemudian menatap suaminya. “dia ini yang pantas kucintai dengan sepenuh hati, lelaki ini yang akan menjadi tempatku mengabdi” batinnya. Tanpa mengalihkan pandangannya dia tersenyum sendiri.
            Melihat tingkahnya yang aneh itu, Andi mengangkat sebelah alisnya. “Kamu kenapa sayang? Ada yang aneh ya sama aku?”. Tanyanya tampak bingung. Sedang Reni justru tertawa melihat suaminya kebingungan.
            Merasa ditertawakan Andi menghampiri istrinya dan memegang kedua bahunya kemudian menatap matanya lekat-lekat sampai membuat Reni salah tingkah dan mengalihkan pandangannya serta berhenti tertawa. Sesaat kemudian ciuman Andi mendarat dikeningnya, Reni hanya bisa memejamkan matanya berusaha meresapi ciuman suaminya sambil menguatkan hatinya. “Aku pasti bisa mencintainya lebih dari aku mencintai Deni”. Bisiknya dalam hati.

By : Akimoto Sachiko
Malang, 03 Oktober 2014